Rabu, 23 Desember 2015

Kenapa Wanita 'Sulit' Masuk Surga?

0

Bismillah..

Masuk surga adalah dambaan setiap insan. Setiap muslimah pasti menginginkan ridha ALLAH Ta'ala dan menjadi penghuni surga. Namun, tidak semua orang bisa memasukinya.

Bahkan, ada beberapa golongan wanita yang bukan saja tidak bisa masuk surga, bahkan mereka tidak bisa mencium bau SURGA-NYA ALLAH AZZA WA JALLA.

(1)> WANITA yang menyemir rambutnya

Khususnya menyemirnya dengan warna hitam, Berikut Berdasarkan Hadits:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,(artinya):

“Pada akhir zaman nanti akan ada orang-orang yang mengecat rambutnya dengan warna hitam seperti warna mayoritas dada merpati, mereka tidak akan mendapat bau surga.”
(HR. Abu Daud; shahih)

(2)> WANITA yang minta CERAI tanpa Suatu Alasan yang Jelas:

“Siapa pun wanita yang meminta talak pada suaminya tanpa alasan maka bau surga haram baginya.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad; shahih)

(3)> MEMALSUKAN NASAB.

Yakni WANITA yang mengaku keturunan orang lain.

Nasab merupakan salah satu hal yang dijaga oleh agama. Seorang wanita yang mengaku-aku sebagai anak orang lain yang bukan ayahnya, ia dijauhkan dari surga dan mendapat ancaman tidak dapat mencium bau surga. Islam juga melarang seseorang dinisbatkan (bin atau binti) kepada orang tua angkatnya.

“Barangsiapa mengaku keturunan dari orang lain yang bukan ayahnya sendiri tidak akan mendapatkan bau surga. Padahal bau surga telah tercium pada jarak tujuh puluh tahun, atau tujuh puluh tahun perjalanan.”
(HR. Ahmad; shahih)

(4)> WANITA yang SOMBONG

Sombong adalah pakaian Allah. Hanya Allah yang berhak sombong karena Dialah pemilik dan penguasa segalanya. Adapun manusia yang sombong, ia tidak dapat masuk surga dan tidak dapat mencium bau surga. Bahkan, meskipun kesombongannya kecil, seberat biji sawi.

Hadits ini disepakati keshahihannya oleh para ulama yang menunjukkan bahwa kesombongan, sekecil apapun, membuat pelakunya tidak masuk surga.

“Tidak masuk surga, seseorang yang di dalam hatinya ada kesombongan, meskipun seberat biji sawi”
(HR. Muslim).

(5)> WANITA yang menuntut ilmu akhirat untuk tujuan DUNIAWI

Mempelajari ilmu agama, ilmu syariat, ilmu akhirat, adalah aktifitas mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam. Bahkan diperintahkan. Namun, jika ilmu agama dicari untuk tujuan duniawi, maka ancamannya sungguh mengerikan. Tidak bisa mendapatkan bau surga.

“Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya untuk Allah, namun ia tidak menuntutnya kecuali untuk mencari dunia, maka pada hari kiamat ia tidak akan mendapatkan bau surga.”
(HR. Ibnu Majah, Abu Daud dan Ahmad; shahih)

(6)> WANITA yang berpakaian tapi TELANJANG.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat:

(1) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan

(2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian."
(HR. Muslim no. 2128).

Wanita yang berpakaian tetapi telanjang.
Ada beberapa tafsiran yang disampaikan oleh Imam Nawawi:

1- wanita yang mendapat nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya.

2- wanita yang menutup sebagian tubuhnya dan menyingkap sebagian lainnya.

3- wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menampakkan warna badannya.

(7)> WANITA yang kepalanya seperti punuk ONTA yang miring

Maksudnya adalah wanita yang sengaja memperbesar kepalanya dengan mengumpulkan rambut di atas kepalanya seakan-akan memakai serban (sorban). (Lihat Syarh Shahih Muslim, terbitan Dar Ibnul Jauzi, 14: 98-99).

Wanita yang maa-ilaat wa mumiilaat
Ada beberapa tafsiran mengenai hal ini:

1- Maa-ilaat yang dimaksud adalah tidak taat pada Allah dan tidak mau menjaga yang mesti dijaga. Mumiilaat yang dimaksud adalah mengajarkan yang lain untuk berbuat sesuatu yang tercela.

2- Maa-ilaat adalah berjalan.

-------------
Sungguh, Allah menjanjikan nikmat di surga. Alasan-alasan diatas bukannya membuat wanita disudutkan, tapi justru bentuk kecintaan Allah terhadap wanita-wanita dengan menunjukkan bagaimana cara mendapat Jannah-Nya.

Semoga bisa menjadi pengingat yang memberi manfaat :)

Sebagian besar disalin dari tulisan milik : Sunarsih Sinar Kharimatunnisa

Jumat, 11 Desember 2015

Aku Lupa Kau Pencemburu

0

Salahnya, aku lupa kalau Kau begitu pencemburu..
yang tak pernah ingin diduakan..
yang tak pernah ingin dilupakan..

Salahnya, aku lupa kalau Kau begitu pencemburu..
aku lupa..
Betapa istimewanya cinta itu..
Aku lupa bahwa hanya Kau, sesempurnanya cinta itu..

Kau lah si pemilik rindu yang paling dalam..
Kau lah yang paling kuasai hatiku..
Mohonku, jangan pergi..
Jangan tinggalkan aku..

Aku tahu..
Kau juga lah, si pemaaf itu..
Berapa kalipun aku berlari..
Saat ku kembali, dengan setianya Kau menanti..

Terimakasih untuk kesempurnaan cintaMu, Rabbi..

Jumat, 11.12.15
02.49

Minggu, 06 Desember 2015

Karena Tuhan Tak Pernah Ciptakan Sebuah Kebetulan

0

Bismillah :)

"Hai, Halo... kebetulan banget ya kita ketemu disini.." katamu.

Benarkah kebetulan?
Faktanya, tuhan telah punya garisan takdir untuk kita. Mulai dari lahir sampai nantinya kita dipanggil untuk kembali. Lalu, bagaimana ceritanya kalau ketemu kamu itu sebuah kebetulan?
-------------------
      Aku yakin, Tuhan tak pernah menciptakan sebuah kebetulan..
Aku bertemu kamu, hari ini, detik ini, besok, lusa, minggu depan atau kapanpun, itu pasti adalah rencanaNya. Namun perkara untuk apa kita semua dipertemukan di bumi ini, biarlah waktu dan bagaimana cara kita mencari jawabannya.
       Hei, biar agak romantis sedikit, aku mau sedikit bercerita. Alkisah aku bertemu dengan seorang pria... *caelah
       Intinya aku belum mengenalnya lah..
       Tiba-tiba dia menepuk punggung dan memanggil namaku, "Naya.."
       Apa ini sebuah kebetulan? Darimana pria semampai yang belum kukenal ini tahu namaku dengan persis?
      Singkat cerita, akhirnya aku tau nama pria itu setelah sempat ngobrol beberapa saat. Ya, nama laki-laki itu Raffa. Nama yang indah menurutku.
       Tidak sulit juga menggambarkan dirimu, Raffa. Kamu tidak begitu tampan dengan tinggi dan berat badan wajar seperti orang kebanyakan. Dengan gaya berpakaian yang santai dan cara bicaramu yang menyenangkan, untuk saat ini aku bisa bilang kamu cukup mudah membaur, setidaknya denganku, hehe.
        Hari ini, di pertemuan pertama kita, kamu memakai kemeja kotak-kotak berwarna biru yang tidak dikancing dengan kaos oblong berwarna putih di bagian dalam dipadankan dengan celana jeans warna senada dengan sepatu kets abu bertali. Oh iya, kamu juga pakai topi berwarna hitam dan sebuah jam yang melingkar di tangan kanan. Terlihat santai sekali.
       Kita bercanda, tertawa walau singkatnya waktu tak bisa ditepiskan.
***
       "Hei.." katamu di sebuah acara lainnya.
        Aku pikir tak akan ada lagi pertemuan kedua untuk kita. Ternyata kamu disini, Raffa. Tahu perasaanku? Senang, pasti. Kamu menyenangkan.
       Apa ini sebuah kebetulan? Bagaimana kalau setelah ini kita akan dipertemukanNya berulang kali? Bagaimana kalau nantinya pertemuan-pertemuan kita ini akan mengandung sebuah arti? Bagaimana kalau aku harus menarik pelajaran dari semua ini?
        Apakah ini sebuah kebetulan?
        Apakah kita akan bisa menjadi teman? Teman baikkah? Atau sahabat? Atau justru sebaliknya? Lalu bagaimana akhir dari pertemuan panjang kita nantinya? Jangan-jangan kita hanya akan berakhir menjadi musuh? Atau malahan jangan-jangan kita... Jodoh?
        Ha..ha..ha.. sepertinya terlalu jauh ya aku berpikirnya. Tapi untuk saat ini, kamu cukup mencuri perhatianku, Raffa.
***

Jumat, 04 Desember 2015

How To Say I Love You?

0

"Cinta"
"Ya?"
"Kenapa kamu ada dan memberi warna?"
"Aku?"
"Ya, kamu.."
"Aku hanyalah aku. Benarkah aku telah memberi warna?"
"Tentu saja. Kamu membuatku bahagia"
"Mungkin karena aku memang tercipta untuk memberi kebahagiaan?"
"Bisa jadi. Tapi bagaimana caranya aku mengungkapkan?"
"Mengungkapkan apa?"
"Kalau aku sedang mencinta"
"Kamu cukup diam. Biarkan hatimu yang bicara. Dia akan merasa"
"Apa benar?"
"Kamu lihat ibumu. Betapa besar pengorbanannya melahirkanmu? Itu cinta yang tak terucap"
"...."
"Kamu lihat matahari yang setia menyinari bumi? Itu juga cinta yang tak terucap"
"Lalu?"
"Buktikanlah. Bukan dengan sekedar kata. Itu lebih bermakna"

Bekasi, 4 Desember 2015

Rabu, 02 Desember 2015

Andai Aku..

0

Andai aku bisa hentikan waktu, ambil kamera lalu mengabadikan senyum itu tanpa ada seorangpun yang tau..
Pasti itu hanyalah ketidakmungkinan yang aku harapkan..
Seperti mengharap setetes embun untuk senja hari..
Semuanya hanya terekam di pikiranku. sebagai memori manis, mungkin..
Aku merekamnya dengan jelas. Senyummu, detik-detik sebelum semuanya berlalu..
Hanya tentang seberapa lamakah otakku akan terus mengingatnya? Itu sesuatu yang takkan kutahu..
Ah, Biar saja..
Terimakasih untuk senyummu sepersekian detik itu, ya.. :")

Bekasi. 12.11.15
#latepost

Minggu, 29 November 2015

Selamat Malam, Cinta!

0

Bismillah :)

Pernah merasa jatuh cinta? Pasti pernah dong ya..
Sama lah kayak Shely yang sedang dan selalu jatuh cinta meskipun diam-diam :")
Ihiww..

Lalu apa?
--------------------------
      "Hai, selamat malam, Cinta!," katamu sambil menepuk pundakku dari belakang.
       Aku tersentak, reflek berucap, "Selamat malam, eh.." kaget saat kulihat wajah siapa yang rupanya menyapaku dengan senyuman. Itu kamu. Benar-benar kamu.
       Yaampun, andai aku boleh berteriak untuk lukiskan betapa bahagianya aku malam ini, maka akan aku lakukan sekencang-kencangnya! Kamu tau? Beberapa menit lalu aku baru saja iseng-iseng terpikir....
       Dan keisenganku ini jadi nyata?

***
      Hari ini sih rencananya aku ingin membeli buku di salah satu mal di sekitaran Bekasi. Aku akan ajak Alika. Tanpa pikir panjang kurogoh tas ransel kesayangan untuk mencari handphone dan mencari kontak Alika di BBMku. Sementara kutunggu balasan dari Alika--dan aku yakin Alika pasti menyetujuinya--aku lanjutkan pekerjaanku. Huh! Masih ada setumpuk file yang belum kuinput datanya ke komputer. Penat betul rasanya. Itulah mengapa rasanya aku butuh refreshing sore ini.
      Deg!
      Tiba-tiba aku merasa seseorang memperhatikan. Perlahan kulirikkan mataku ke arah kiri dan dengan mulus kutangkap sebuah senyuman yang menyapa tatapan mataku.
     "Eh, kenapa?" Kataku. Kikuk.
      "..." Kamu hening. Tak berapa lama kamu palingkan wajah, pergi sambil berkata, "nggak apa-apa kok,"
      Ya Tuhan! Andai aku bisa hentikan waktu. Pasti kan kuambil kamera untuk abadikan senyum itu tanpa ada seorangpun yang tau.

***
       "So, ada kabar baik apa hari ini?" Kalimat sapaan Alika saat berhasil menemukan aku di KFC, tempat biasa kami meeting point.
       Aku hanya diam sambil menyeruput minuman. Mengangkat bahuku bermaksud bilang kalau aku nggak tau mesti cerita apa.
       "Bagi ceritanya dong yang lagi fallin love," ujarnya sambil pasang tampang berharap dan menopang dagu di punggung tangannya. Sahabat kecilku ini memang selalu tau apa yang aku rasakan, termasuk saat aku jatuh cinta.
       "Lagi nggak minat cerita ah. Yuk langsung ke gramedia aja," kataku sambil menarik tangan Alika, mengajaknya pergi.

***
      Mundur. Aku perlahan melangkah mundur saat menyadari bahwa seseorang yang ada di balik rak buku itu kamu. Ah, semoga kamu nggak sadar kalau aku juga ada disini.
      Sementara kamu sibuk dengan bukumu, aku berusaha mencari--atau berpura-pura mencari--Alika. Dimana ya dia? Mataku mulai jelalatan sementara dadaku tak hentinya berdegup kencang.
       Terus saja aku melangkah sampai aku terlupa kalau aku tadi mencari Alika. Yang kupikir hanyalah bagaimana mennghindari kamu saat ini. Sepanjang langkahku, beberapa sampul buku sempat kuintip gambarnya. Namun hasilnya nihil. Aku bahkan nggak tertarik untuk membacanya walau sedikit saja. Ini rasanya sudah nggak wajar. Aneh.
      "Hei..! Kemana aja sih?" Kata Alika. Aku tersenyum simpul.
      "Udah nemu buku yg dicari?"
       Aku menggeleng. Padahal sudah dua jam aku keliling nggak jelas.
        "Gue mau bayar ini aja dulu deh. Lo masih mau nyari buku atau gimana?" Tanya Alika.
       ".... nggak jadi, gue nganter lo aja," ucapku.
        Alika menatapku dengan pandangan mata yang aneh. Aku sadar dia heran. Bahkan, keheranan Alika ini masih berlanjut sampai kami berdiri di depan kasir.
       "Lo kenapa sih, Cin? Celingukan aja dari tadi?"
       "Hehe" aku nyengir, "nggak apa-apa,"
       Alika lalu membayar bukunya dan keluar dari toko buku.
       Ah, Sepertinya kamu sudah lebih dulu pulang.
***
       Sore itu, entah perasaan macam apa yang mengisi rongga dada. Hampa. Bahkan Alika pun nggak aku perhatikan saat bicara. Padahal kami dari tadi sudah keliling-keliling, masuk keluar tenant yang ada di mal, tapi nggak ada satupun yang menarik perhatianku.
       Cuma satu yang terpikirkan. Kamu.
       Aku benar-benar ingin lihat kamu lagi. Setidaknya sebelum keluar mal.
       "Kalau aku ketemu kamu lagi, kita jodoh," kataku dalam hati. Iseng saja. Meski ada juga separuh harapan.

***
Bekasi. 30 Nov 2015

Kamis, 29 Oktober 2015

Different Ways To Say "I Love You, Mom" (2)

0

Cerbung oleh Fatmashely

Dokter itu Bohong!
       Saat Ibu konsultasi bulan lalu, semua baik saja. Dokter nggak bilang kalau kandungan Ibu bermasalah, kata dia aku sehat. Bahkan. bulan lalu pula dokter bilang kalau aku boleh lahir tepat waktu 9 bulan 10 hari, dimana jatuhnya sama persis dengan hari lahir Ayah, 20 November. Tapi kenapa yang disampaikan kemarin sore berbeda?
        Aku geram, sementara Ibu makin jadi banyak pikiran. Sedikit banyak, apa yang dirasakan Ibu semalaman ini berpengaruh kepada aku. Kumohon, Ibu jangan sedih. Percayalah aku baik-baik saja disini!
        Merasakan kegelisahan Ibu adalah kontak batin terbaik antara hubungan Ibu dan anak yang aku miliki dari dalam sini. Sementara aku hanya bisa terus menggeliat di dalam rahim ibu. Mana bisa tenang aku? 
        Sudah cukup rasanya aku menyakiti ibu disetiap detiknya. Membuat Ibu harus rela menambah berat ditubuhnya yang semakin hari semakin menjadi, Dua puluh tiga kilo bertambahnya. Membayangkan mengangkat beban seberat itu selama 10 menit saja aku belum mampu, Ini berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan lamanya.
       Belum lagi, selalu membangunkan Ibu tiap malam dan membuatnya selalu sulit tidur. Aku yakin, dengan perut sebesar itu, Ibu nggak akan nyaman dengan posisi tidur bagaimanapun.
       Ibu pasti lelah, ya? Ibu jadi kurang jam tidur, ya? Tapi kenapa Ibu nggak pernah mengeluh?
       Padahal, setiap sebulan sekali Ibu harus pergi kontrol ke Dokter untuk memeriksa aku. Disuntik berkali-kali dan disodorkan berbagai macam obat dan vitamin demi kesehatan aku. Mendapat beberapa pantangan makanan, keharusan mengonsumsi susu tawar yang aku tahu kalau ibu sebetunya nggak suka. Ditambah lagi keharusan Ibu olahraga berjalan kaki setiap pagi supaya--katanya--proses persalinannya mudah. Sementara di lain sisi, Ibu masih punya kewajiban untuk tetap berbakti pada Ayah.
       Oh Ibu, belum lahir saja aku sudah kurang ajar...
***
       Segelas susu tawar segar lagi pagi ini.
       Aku suka. Tapi Ibu nggak.
       Sebetulnya aku belum tahu apa alasan Ibu nggak suka susu. Tapi kebiasaan Ibu mual-mual setiap pagi setelah minum susu lah yang membuatku berpikir kalau ibu nggak suka susu. Seperti pagi ini, ada mual yang sengaja ditahan. Demi aku agar mendapat asupan kalsium dari susu itu.
      Bu, apa baiknya aku keluar saja? 
      Ibu hanya mengelus-elus aku dari luar, buat aku merasa nyaman. Aku selalu suka setiap ibu perlakukan aku seperti ini. Sangat rileks. Nggak lama lagi, ibu pasti ngajak aku berkomunikasi. Aku hapal, kan? hihihi.
       "Nak, Ibu cuma ingin kamu sehat. Melahirkan kamu di waktu yang tepat dengan persalinan normal, itu sebetulnya impian Ibu.." Ibu masih terus mengelus perut, sementara aku hanya sibuk mendengarkan dari dalam, "..Tapi, kemarin kata Dokter kamu harus lahir Premature, kalau tidak, salah satu dari kita harus mengalah," Aku terkesiap. Sudahi percakapan ini, Bu! Aku nggak mau dengar.. 
       "Kalau itu sampai terjadi, berarti kamu yang harus selamat, ya. Ibu mencintai kamu, Nak," ujar Ibu.
       Aku berontak tiba-tiba. Marah.
***
       "Eeenggh.." Ibu melenguh bangun dari tidurnya. Aku ikut bangun. 
       "Jangan bergerak dulu, kamu baru habis pingsan tadi, Untung nggak terjadi apa-apa," kata suara diluar, aku tahu itu suara Ayah, suara kedua yang aku hapal setelah Ibu.
       Aku harus pasang kuping supaya tau apa yang sedang terjadi di luar.
       "Kita di rumah sakit, Dik. Tadi Dokter bilang tensi darahmu makin tinggi. Mau nggak mau persalinan harus dilakukan. Meski seberapapun keras kepalanya kamu mau pertahankan anak kita sampai 9 bulan, aku tetap nggak mau kehilangan kalian. Tadi kamu kontraksi hebat. Ah iya, minumlah dulu,"
       Ibu diam, tak ada jawaban dan menuruti Ayah untuk minum air. Sementara aku makin merasa bersalah. Untung saja aku punya Ayah yang sigap, langsung membawa Ibu ke Rumah Sakit. Kalau tidak?
       Aku benar-benar sudah kelewat batas!
       "Nanti Dokter akan kasih obat perangsang supaya kamu bisa kontraksi lebih cepat dan bayi bisa dikeluarkan layaknya orang normal. Aku lupa namanya apa, tadi sih Dokter sempat menyebutkan istilahnya, Tapi, katanya ini akan dua kali lebih sakit daripada lahiran dengan kontraksi normal. Demi kamu dan anak kita, kamu bersedia, Dik?" tanya Ayah.
***

(Bersambung)

Ditulis di Bekasi, 29 Oktober 2015

Rabu, 28 Oktober 2015

Different Ways To Say "I Love You, Mom" (1)

0

Cerbung, oleh Fatmashely

Hari ini, tiga hari sebelum kelahiranku..
        Bisakah kau bayangkan? Betapa aku begitu gugupnya membayangkan bahwa akan kutemui dunia yang begitu penuh dengan kepura-puraan, penuh dengan kesombongan dan kehausan atas kekuasaan. Ya, aku mendengar pembicaraan-pembicaraan itu dari balik tebalnya dinding rahim ibuku yang kokoh dan terus membesar ini. Meski sempit, inilah tempat teraman dan ternyaman bagiku. Sungguh.
       "Aww.." Ibuku mengeluh saat aku menggeliat dan tidak sengaja menendang rahim bagian atas ibu. Sekarang posisiku sudah terbalik, kepalaku dibawah.
       Ya Tuhan, apakah aku penyebab sakitnya ibu? Kalau benar iya, maka maafkan aku, Bu..
       "Kenapa?" kudengar ada suara wanita lain yang menanyakan keadaan ibu.
       "Bayiku lagi ngulet," ucap Ibu dengan nada senang. Ah, apa benar ibu senang? Baru saja aku menyakitinya. Habis bagaimana lagi? disini benar-benar gelap dan mulai terasa sempit. Kadang aku juga merasa bosan dan pegal kalau hanya bertahan dengan satu posisi. Aku ingin selalu bergerak untuk menyamankan posisiku sekaligus supaya Ibu nggak khawatir seperti waktu itu.
       Khawatir?
       Ya, aku pernah sekali waktu diam saja karena nggak tega mendengar rintihan Ibu yang kesakitan, atau yang selalu terbangun tengah malam hannya karena aku terus bergerilya di dalam rahimnya. Tapi ibu bukannya senang malah khawatir. Aku ingat betul, malam itu Ibu nggak bisa tidur dan malah membangunkan Ayah. Deru nafas dan detak jantung ibu yang terdengar jelas seperti sedang panik dan gelisah. Aku jadi ikut-ikut nggak bisa tidur.
       "Kamu kenapa, Dik?" Kata Ayah setelah dibangunkan ibu. Ayah selalu memanggil ibu dengan sebutan Dik. Mungkin maksudnya Adik.
       "Nggak bisa tidur, Mas. Anakmu ini kok nggak gerak-gerak ya sedari tadi? Khawatir," kata Ibu sambil mengelus-elus perutnya. Aku merasakan elusan tangan Ibu dari balik rahim. Lembut.
       "Jangan panik. Inshaa Allah nggak akan ada apa-apa, Sudah tidur. Seorang ibu juga kan perlu istirahat," Ayah menenangkan.
       Aku bingung harus melakukan apa saat itu. Aku ingin bergerak, tapi ibu pasti kesakitan lagi. Aku nggak mau ibu sakit.
       Tapi kalau aku diam saja...
      "Mas! Anakmu bergerak! Anakmu bergerak!," Ibu kegirangan.
      Ini sungguh buat aku heran. Kenapa Ibu senang bila aku menyakitinya?
***
       Sore ini, jadwal kontrol Ibu ke Dokter di usia kandungannya yang ke 8 bulan 17 hari.
       Aku merasa dingin saat stetoskop Dokter itu menyentuh perut ibuku. Sedikit kesal juga saat dokter menekan-nekan perut ibu dan membuatku merasa nggak nyaman, meski tekanannya nggak kasar. Saat itu belum ada USG yang bisa mendeteksi aku. Ibu saja belum tahu apa jenis kelaminku, hihihi.
       Lucunya lagi, aku 'diramal' dokter itu kalau aku kembar...
       "Bu, Tensi darah Ibu tinggi sekali. Bisa bahaya untuk janin. Sebaiknya harus segera dikeluarkan, kalau tidak..." perkataan Dokter ini buatku gugup, "Kalau menunggu sampai 9 bulan 10 hari, maka kemungkinan besar salah satu--antara Ibu atau anak di kandungan Ibu--nggak akan selamat," ucap Dokter itu tanpa penyesalan. Aku geram mendengarnya. Ucapan itu telah membuat Ibu sedih.
***

(Bersambung)


Ditulis di Bekasi, 28 Oktober 2015

Jumat, 13 Februari 2015

Hujan Pelangi

2

Cerpen By Fatmashely


“Bismillah..”
Ketika jemariku mengetik barisan klimat ini, rasa-rasanya waktu berjalan begitu lambat. Mengizinkan otakku untuk memutar arah ke belakang. Merasakan betapa sungguh karunia Allah yang tak terhingga telah kujumpai. Mungkin, yaa mungkin disinilah titik untukku memaknai. Hmm.. kuakui sebelumnya tidak.
Aku Ashna, yang saat ini hanya bisa menatap layar monitor laptopku sementara pikiranku terus melayang. Hari ini, aku dihadapkan pada dua pilihan : Berhenti kuliah, atau aku akan terus mencekik ayahku dengan segala tunggakannya.
Kalau kau belum tahu alasannya, baiklah, aku akan ceritakan. Kalau kau mau menghakimiku, ‘kamu bisa kerja, kan?’ silakan. Tapi aku tak mau melakukannya. Idealism? Ya, mungkin sedikit. Selebihnya, aku berusaha realistis memandang hidup.
Sebelas bulan sebelum hari ini, aku masih berada diatas angin. Nggak perlu bigung hari ini gimana, besok makan apa. Semua tercukupi. Ayahku masih normal bekerja dengan gaji yang lebih dari cukup. Keadaan yang melenakkan sampai membuatku lupa bersyukur. Setiap bulan, kami pasti pergi ke supermarket untuk persiapan kebutuhan dapur, motorku masih rutin dicuci steam, bahkan aku lebih sering cuci pakaian di laundry. Mana kutahu kalau itu bulan terakhir aku bisa melakukannya?
                “Ayah nggak berangkat kerja?” kataku.
Ayah hanya memandangku sambil tersenyum kecut. Tak ada gairah sedikitpun. “Ayah mau antar kamu ke kampus, sekali-sekali”
“Loh? Aku kan bawa motorku sendiri. Nggak perlu diantar lah, lagipula aku masuk agak siang kok”
“Udahlah, yah..” Ibu berkata pada ayah tapi tatapan matanya kearahku.
Segalanya berubah sejak hari itu. Dari Ibu aku tahu, ayah sudah berhenti bekerja karena PHK.
Kaget? Putus asa? Tentu!. Aku bingung harus bagaimana. Apalagi, di bulan-bulan berikutnya ayah benar-benar mogok, sudah nggak mau bekerja lagi. Padahal uang tabungan kami semakin lama menipis. Rasanya tak karuan.
Ternyata efeknya nggak hanya terasa saat dirumah. Karena pikiran, nilai di kampus merosot. Gairah belajar sih tetap ada, tapi pikiran serabutan cari akal. Mungkin sudah miri orang gila, hahaha.
Sedikit kisah lucu setengah miris malah terjadi. Yoga, teman cowokku satu fakultas mendadak bilang cinta. Walah-walah. Dalam keadaan begini, hati ini rasanya lagi mati rasa sama hal-hal yang berbau cinta.
“Aku salah bilang sayang?” kata Yoga di hadapanku, sore itu.
“Nggak sama sekali” sahutku tanpa menatpnya.
“Tapi kenapa?” ungkapnya menggantung.
“Sikonnya nggak tepat, Yog. Maaf yaa..”
***
                Tiga bulan setelahnya, di pertengahan semester aku putuskan untuk dagang di kampus. Pagi-pagi sekali, kujemput kue-kue di pasar untuk dibawa. Setiap hari begitu. Kalau bukan untuk uang makan siangku, mungkin aku enggan melakukannya. Yap, benar dugaanmu, uang jajanku di stop. Ayah hanya member uang kuliah, bukan uang jajan.
                “Ashna!” Panggil seseorang diujung lorong fakultas, aku menoleh sambil tersenyum. Dua plastic besar di tanganku masih mnggelayut.
                “Masih ada kuenya?” kata dia.
                Senyumku makin mengembang. Kupamerkan dua kantong besar itu, “Masih banyak, nih!”
                Begitulah aku, setiap hari sampai akhir semester ini.
***
                “Ayah… gimana kuliahku?” kataku sembari mengambil kerupuk udang untuk lauk makan. Ayah hanya diam tak bergeming.
                “Sekai ini aja, aku minta tolong, Yah… Aku gagal kumpulin uang dari dagangan…”
                “Tabungan ayah sudah habis, Ashna…”
                Aku sangat ingat hari itu. Aku merasa tuhan tak adil. Kenapa harus aku? Sambil menahn isak tangis aku berlari ke kamar. “AAAARRRRRGGGHHH…!!!!” Rasanya ingin teriak. Detik itu, sepertinya aku tak punya rongga dada. Semua penuh sesak.
                Aku ingat dulu, saat semua masih indah. Aku ingat dulu, saat ayah dengan mudahnya memberiku uang. Aku ingat dulu, saat bisa memilih sekolah terbaik. Semua seperti baru sekejap lalu kualami, tapi sekarang hilang entah dimana. Oh Ashna… apa dunia ini akan berakhir?
                Aku hanya menangis.
                Menangis.
                Dan menangis hampir setiap malam.
                Meratapi nasib…
                Kalau boleh jujur, semua tangisan ini sebenarnya hanya menguras energiku saja. Menyisakan wajah lengket bekas air mata. Mata yang sembab dan pipi mengembung ini justru menyiksaku kemudian. Belum lagi hidungku yang tersumbat, membuatku harus rela bernafas dari mulut saat tidur.
***
                “Ada kalanya kamu jatuh, Ashna…” kataku pada cermin sambil berusaha tersenyum, “Saatnya bangkit, bukan menyesali..”
                Aku merapikan ujung rambutku dengan sisir yang tergeletak di dekat cermin. Entah dapat semangat darimana, hingga pagi tadi aku bisa melakukannya.
                “SEMANGAT ASHNAAAAAA…!!! LIFE MUST GO ON, YEAAAAAH!!!!!”
                “If I can dream it, I’ll get it…!”
                Seperti orang gila. Aku memotivasi diriku sendiri.
                “Ashna! Kamu kenapa sih?!” Ibuku masuk kamar dengan sewot. Aku hanya tersenyum memamerkan gigi.
                “Bu, Ashna mau cuti..!” kataku.
                “Harusnya kamu nggak perlu lakuin itu. Kamu mau kerja? Kan bisa kuliah sambil kerja…”
                “Nggak bu, aku mau buka usaha, buka toko. Dalam satu tahun cuti, aku mau kembangin seluas-luasnya… Ashna sedikit lagi sukses, Bu! Asal ibu berdoa terus yaa.. jangan berhenti. Bu, Ashna bukan cuma menghayal. Kali ini serius!” Aku melihat ibu memandangku lembut sekali sambil menggumam, Aamiin…
                “Modalnya?” Akhirnya ibu angkat bicara.
                “Dari Allah lah, ntar juga ada jalannya, Insyaa Allah”
                “Kenapa nggak kerja?”
                “Motor kita tinggal satu sejak ayah nggak kerja, Bu. Ada banyak lowongan kalau aku mau kerja jauh. Tapi itu perlu modal transport. Kalau mau yang dekat, hmm… lihat nanti lah bu. Allah pasti beri jalan. Tapi misalkan aku kerja, maka itu buat nambah modal, bukan penghasilan utama. Usahaku mau kujadikan investasi, Bu.. buat keluarga kita”
                “Buat masa tua ayah dan ibu…” ujarku dengan idealisme yang tinggi. “Do’akan aku yang terbaik, Bu.. saat ini modalku hanya do’amu…”
                “Aamiin…” kata ibu.
                Aku kembali menatap cermin. Melihat betapa beraninya aku membuat keputusan sekarang. Ashna yang sekarang jauh lebih kuat…
***
Bekasi, 13 Februari 2015
                “Sekarang aku mengerti, kenapa Allah berikan begitu banyak pilihan dan cobaan dalam hidup. Tidak lain karena hidup ini terlalu indah, tapi tidak berwarna tanpa pilihan dan cobaan. Kalau kamu pernah mendapatkan keduanya, bersyukurlah. Berarti tidak lama lagi hidupmu akan semakin indah dan berwarna…"

-ASHNA-

Kamis, 22 Januari 2015

Ini dia bisnisku

0

Awalnya, cuma berpikir bagaimana caranya menghasilkan uang, tapi nggak bekerja sebagai karyawan. Akhirnya, membaca peluang jualan di kampus yang kayaknya tinggi, akhirnya aku emutuskan buat jualan gorengan! hehehe.

Semester dua, aku inget banget. Pertama kalinya jual gorengan dengan malu-malu kucing. Pelanggannya cuma teman-teman di kelas, dan kelas sebelah yang kebetulan aku kenal. "Ada yang belum sarapan?" kataku tiap pagi di pintu kelas sebelah, "Mau gorengan?"

Aku masih ingat saat nawarin sambil degdegan. Perlahan tapi pasti, gorengan yang aku jual 2500 per 2pcs itu laris banget. Pernah juga nggak laku! Sampai aku harus ditemani saabatku, Brenda, keliling ke fakultas lain. Omzet daganganku, 17.000 per hari. Lumayan buat tambahan makan siang.. hehe

Semester berikutnya, aku bingung harus dagang apa lagi. Ditambah ayahku yang awalnya jadi sumber uang jajanku, sekarang sudah selesai masa kerjanya. The power of kepepet itu berjaalan. Melalui internet, aku memulai usaha baruku. Bermodal BBM, Instagram dan Line. Terciptalah SHENASHOP pada 24 Agustus 2014...

Shenashop itu nama gabungan antara aku dan adikku. Shena = Shely + Nasywa, keren kan. hahaha.

Shenashop awalnya menjual aksesori gadget, seperti hedset, flashdisk, powerbank, dsb. Dari hasil penjualan, shenashop bisa meraup omzet antara 100ribu s/d 500rb di bulan awal. Pelanggan pun bukan hanya dari teman-teman satu daerah, tapi juga ddari luar daerah, luar Bekasi, dan luar pulau!

Di 2015, selain aksesori gadget, shenashop juga menjual lulur wajah but perempuan yang ingin tampil cantik natural :)
Walaupun keliatan kontras antara lulur wajah dan aksesori gadget, insyaaAllah yang namanya pintu rezeki akan ada aja jalannya. Nantinya, si lulur wajah ini bakal punya tempat sendiri. Tapi, nanti setelah pelanggannya banyak. hihihi.

Buat yang kepo, mau tau gimana si tampilan shenashop?
Langsung ke official instaagramnnya aja yaa..
DI SINI

Mau order?
Via BBM : 7EA4E1C7
Line : fatmashely_

Selasa, 20 Januari 2015

KAU YANG BEGITU

0

Oleh : Fatma Shely

Kamu memang begitu,
Kamu selalu bisa buatku ragu apa kamu benar cintaiku
Kamu memang begitu,
Kamu selalu bisa halangiku untuk berkata aku tidak cinta kamu
Kamu memang begitu,
Kamu selalu bisa meyakinkanku kalau tidak ada rasa selain rindu
Setiap tak ada kamu…
Kau yang begitu..
Kau yang begitu…
Kamu memang selalu begitu..
Kau musnahkan setiap rasa cemburu yang pernah singgah, untuk digantikan perasaan nyaman berada di dekatmu
Meski aku tak yakin benar kamu cinta aku
Kau hadirkan rayu tuk memaksaku bilang aku tidak benci kamu
Kau hilangkan rasa letih dan menghapus segala kesedihan malam hariku
Kau yang begitu…
Aku
Kau yang begitu…

Cinta

Senin, 19-1-15 / 15:18