Rabu, 28 Oktober 2015

Different Ways To Say "I Love You, Mom" (1)

0

Cerbung, oleh Fatmashely

Hari ini, tiga hari sebelum kelahiranku..
        Bisakah kau bayangkan? Betapa aku begitu gugupnya membayangkan bahwa akan kutemui dunia yang begitu penuh dengan kepura-puraan, penuh dengan kesombongan dan kehausan atas kekuasaan. Ya, aku mendengar pembicaraan-pembicaraan itu dari balik tebalnya dinding rahim ibuku yang kokoh dan terus membesar ini. Meski sempit, inilah tempat teraman dan ternyaman bagiku. Sungguh.
       "Aww.." Ibuku mengeluh saat aku menggeliat dan tidak sengaja menendang rahim bagian atas ibu. Sekarang posisiku sudah terbalik, kepalaku dibawah.
       Ya Tuhan, apakah aku penyebab sakitnya ibu? Kalau benar iya, maka maafkan aku, Bu..
       "Kenapa?" kudengar ada suara wanita lain yang menanyakan keadaan ibu.
       "Bayiku lagi ngulet," ucap Ibu dengan nada senang. Ah, apa benar ibu senang? Baru saja aku menyakitinya. Habis bagaimana lagi? disini benar-benar gelap dan mulai terasa sempit. Kadang aku juga merasa bosan dan pegal kalau hanya bertahan dengan satu posisi. Aku ingin selalu bergerak untuk menyamankan posisiku sekaligus supaya Ibu nggak khawatir seperti waktu itu.
       Khawatir?
       Ya, aku pernah sekali waktu diam saja karena nggak tega mendengar rintihan Ibu yang kesakitan, atau yang selalu terbangun tengah malam hannya karena aku terus bergerilya di dalam rahimnya. Tapi ibu bukannya senang malah khawatir. Aku ingat betul, malam itu Ibu nggak bisa tidur dan malah membangunkan Ayah. Deru nafas dan detak jantung ibu yang terdengar jelas seperti sedang panik dan gelisah. Aku jadi ikut-ikut nggak bisa tidur.
       "Kamu kenapa, Dik?" Kata Ayah setelah dibangunkan ibu. Ayah selalu memanggil ibu dengan sebutan Dik. Mungkin maksudnya Adik.
       "Nggak bisa tidur, Mas. Anakmu ini kok nggak gerak-gerak ya sedari tadi? Khawatir," kata Ibu sambil mengelus-elus perutnya. Aku merasakan elusan tangan Ibu dari balik rahim. Lembut.
       "Jangan panik. Inshaa Allah nggak akan ada apa-apa, Sudah tidur. Seorang ibu juga kan perlu istirahat," Ayah menenangkan.
       Aku bingung harus melakukan apa saat itu. Aku ingin bergerak, tapi ibu pasti kesakitan lagi. Aku nggak mau ibu sakit.
       Tapi kalau aku diam saja...
      "Mas! Anakmu bergerak! Anakmu bergerak!," Ibu kegirangan.
      Ini sungguh buat aku heran. Kenapa Ibu senang bila aku menyakitinya?
***
       Sore ini, jadwal kontrol Ibu ke Dokter di usia kandungannya yang ke 8 bulan 17 hari.
       Aku merasa dingin saat stetoskop Dokter itu menyentuh perut ibuku. Sedikit kesal juga saat dokter menekan-nekan perut ibu dan membuatku merasa nggak nyaman, meski tekanannya nggak kasar. Saat itu belum ada USG yang bisa mendeteksi aku. Ibu saja belum tahu apa jenis kelaminku, hihihi.
       Lucunya lagi, aku 'diramal' dokter itu kalau aku kembar...
       "Bu, Tensi darah Ibu tinggi sekali. Bisa bahaya untuk janin. Sebaiknya harus segera dikeluarkan, kalau tidak..." perkataan Dokter ini buatku gugup, "Kalau menunggu sampai 9 bulan 10 hari, maka kemungkinan besar salah satu--antara Ibu atau anak di kandungan Ibu--nggak akan selamat," ucap Dokter itu tanpa penyesalan. Aku geram mendengarnya. Ucapan itu telah membuat Ibu sedih.
***

(Bersambung)


Ditulis di Bekasi, 28 Oktober 2015

0 komentar: