Rabu, 01 Oktober 2014

Dibalik Balutan Luka

0

Cerpen by : Fatmashely

            Serangan udara yang dilancarkan zionis Israel akhir-akhir ini semakin membabibuta. Yang kutahu dari siaran berita di televisi, penyebabnya karena tiga pemuda Israel dinyatakan mati dibunuh di kawasan Palestina. Menurut tuduhan mereka, pasukan Hamas lah yang menyandera para pemuda itu. Ah, geram sekali aku mendengarnya. Apalagi, setelah aku tahu kalau korban terbunuh dari serangan mereka tak kurang dari 160 warga Palestina.

Masjidil Al-Aqsha pun kini juga telah di boikot para tentara biadab itu. Yahudi menyebutnya sebagai “Temple Mount” dan mengklaim daerah itu sebagai tempat berdirinya dua kuil Yahudi pada masa lalu.[1] Masya Allah… sepertinya mereka pura-pura lupa kalau ini bulan Ramadhan.

            “Ada kabar baik apa untuk negara kita, Palestine?” Ibu yang sedang sibuk menyiapkan makan untuk berbuka menyapaku saat baru pulang dari kamp pengungsian yang tak terlalu jauh dari rumah. Ibu tahu, hanya di kamp lah televisi bisa menyala karena dekat dengan sumber listrik. Selebihnya, listrik dipadamkan.

            “Seratus enam puluh mujahid baru, Bu. Paman Amir salah satunya…” kataku sambil membuka kerudung dan berjalan menghampiri Ibu. Sepertinya persediaan makanan kami hampir habis. Makanan yang kami punya ini pun datangnya dari saudara muslim kami di berbagai belahan dunia.

            Ibu tersenyum, “Alhamdulillah…”

            Tak dapat disembunyikan guratan kesedihan di wajah Ibu yang berusaha tegar. Bagaimanapun, hanya Paman Amir satu-satunya saudara kandung terakhir yang Ibu miliki. Sama seperti aku dan kakakku, Ahmed. Sementara adikku, Ali, telah mendahului kami saat ada serangan di dekat sekolahnya dua bulan kemarin. Lalu ayahku? Ia menghilang setahun ini, entah dimana keberadaannya. Semoga saja kini ia menjadi salah satu bagian tentara Hamas dan berjihad bersama tentara Al Qassam seperti impiannya.

            Ya, ayahku lah yang selalu menanamkan kecintaan keluarga kami pada negeri Palestina. Tanah ini milik muslim dan kita harus perjuangkan, katanya. Ia tak pernah sedikitpun lelah mengobarkan semangat untuk terus berjuang saat kami mulai rapuh mendapati satu per satu saudara dan sahabat kami pergi mendahului.

            Aku ingat nasehat terakhir ayahku sebelum ia pergi meniggalkan kami tanpa jejak, “Berjuanglah untuk negaramu, Palestine! Mereka bisa saja membunuhmu, kapanpun. Tapi kau jangan takut, jangan pernah gentar jalankan amanat mulia ini. Kalaupun kau harus mati, ingatlah kalau Allah yang akan menyambutmu dengan cinta-Nya…”

            “…Tanah Palestina adalah hak umat Islam. Mereka telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan telah menyiraminya dengan darah mereka. Selama aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Daulah Islamiyah. Perpisahan itu tidak akan terjadi!”[2]

            Benar-benar mengobarkan semangat, kan?

***

            Aku mendengar banyak suara rintihan disini, sekejap setelah aku tersadar. Suasana kacau. Banyak orang berseragam putih mondar-mandir dalam penglihatanku, sibuk membantu mereka yang menangis pedih meminta pertolongan. Aku mencoba menggerakan tubuh, rasanya remuk. Perlahan tapi pasti, perasaan nyeri di sekujur tubuh mulai terasa. Lebih-lebih di bagian betis kananku. O Allah, ada apa ini?

            “Kamu sudah sadar, Nona?” kata seorang wanita yang menghampiriku. Wajahnya besembunyi di balik masker berwarna hijau muda. Aku langsung bisa menebak kalau ia seorang suster yang bertugas di rumah sakit darurat.

            “hh..” aku melenguh menahan perih, “Aku…”

            “Jangan banyak bergerak dulu, kamu baru sadar dari pingsan dan keadaanmu luka parah” Suster itu memotong kalimatku, “Tadi ada serangan dari Israel… biar saya kasih kamu penghilang nyeri, ya…”

            Suster itu pergi dari hadapanku, bahkan sebelum aku diberitahu seberapa parah lukaku. Rasanya sangat nyeri di bagian kaki dan aku hanya bisa mengeluarkan beberapa tetes air dari sudut-sudut mataku. Aku tak akan pernah mengeluh sakit!

            Ahmed..?

Aku melihat kakakku menghampiri dengan kursi roda. Kedua kakinya diperban dan terlihat lebih pendek dari sebelumnya. Tiba-tiba rasa nyeri di tubuhku hilang dan sepertinya pindah ke hati. Miris rasanya melihat kakak kesayanganku itu harus diamputasi.

Sebetulnya, pemandangan seperti ini bukan yang pertama kalinya kulihat. Sudah banyak korban-korban kekejaman Israel yang harus rela kehilangan sebagian tubuhnya hanya demi bertahan hidup. Tapi rasanya aku tak bisa terima, kali ini harus keluargaku yang dapat giliran.

“Palestine itu kuat! Nggak cengeng seperti ini… ayo hapus air matamu!” kata Ahmed sambil mengusap air mataku.

“Dasar bodoh! Bisa-bisanya kakak berkata begitu…” tangisku bertambah deras, “Memangnya apa yang bisa kakak lakukan nanti dengan kursi roda?!” emosiku meluap. Aku benar-benar menyayangi kakakku.

“Aku masih bisa menjagamu, kan?” Ahmed tersenyum dan membiarkan aku menyelesaikan tangisku sendiri, “Aku belum diizinkan berjihad untuk negaraku, Palestine… padahal aku berharap begitu. Mungkin, Allah tak ingin membiarkan aku mati tanpa perlawanan…”

Aku tak mampu berkata apapun, hanya tersenyum mendengar kalimatnya barusan. Aku bangga memilikinya.

Suster yang tadi meninggalkanku telah kembali. Ia mengeluarkan jarum suntik yang masih steril dari bungkusan dan mengisinya dengan suatu cairan yang aku tak tahu apa namanya.

“Mungkin ini akan terasa sedikit sakit, tapi setelah itu rasa nyerimu akan berkurang” ujarnya menenangkan.

“Apa kau akan menyuntikku, Suster?”

Suster itu tersenyum dan mengangguk, “Setelah itu, lukamu akan dibersihkan. Pada beberapa bagian harus dijahit”

“Tidak, Suster. Apa kau lupa bahwa hari ini aku sedang shaum? Aku nggak mau membatalkannya”

“Tapi lukamu perlu di bersihkan, Nona… kalau tidak, lukamu bisa infeksi. Cairan di suntikan ini fungsinya untuk menghilangkan rasa nyerinya” Suster itu mencoba membujukku.

“Tidak, Suster! Lakukan saja apa yang harus dilakukan, aku akan menahan semua rasa nyerinya. Meskipun kakiku harus diamputasi seperti kakakku, aku tak akan mau merusak shaumku” kerasku.

“Kamu yakin? Lukamu begitu parah…”

“Ya!” anggukku mantap.  Kulirik Ahmed yang masih berada disampingku, “Kakakku bilang kalau Palestine itu kuat!”

***

            “Aku suka gayamu bicara ke suster itu. Kau memang gadis Palestina yang kuat!”

            Ahmed yang duduk di kursi roda menatapku penuh arti. Malam ini cukup tenang tanpa ada suara deru senjata yang terdengar atau jet tempur yang lalu lalang. Mungkin pihak Israel sedang menikmati waktu istirahatnya, atau menyusun rencana baru lagi yang lebih kejam? Entahlah…

            Angin semilir yang menerpa wajah dan mengibaskan ujung kerudungku mulai terasa dingin. Aku segera mengayunkan tongkat untuk membantuku berjalan mendekati Ahmed dan  membawanya masuk ke dalam. Lukaku dan Ahmed memang tak mugkin kering secepat itu. Tapi setidaknya, kami sudah boleh pulang kerumah besok pagi. Aku tak sabar bertemu Ibu…

            “Ibu nggak mengunjungi kita, kak?”

            “Tentu saja, Ibu sedang berjuang untuk kita… dia koma dan dirawat di rumah sakit As-Syifa. Besok kamu sekolah, kan?” Aku mengangguk, “Besok kita kunjungi Ibu sepulang kamu sekolah, ya?” kata Ahmed melanjutkan.

            “Oke! Janji, ya…”

            “Insya Allah”

            Senyumku mengembang, meski rasanya berat sekali beban batin yang menghimpit. Ibu, aku hanya tak ingin menangis mendengar keadaanmu sementara kau sedang berjuang…

            “Oh, iya” kata Ahmed tiba-tiba, sesaat setelah suster selesai membantunya naik ke kasur. “Aku akan menjaga Palestine semampuku, meski dengan keadaan seperti ini. Karena bagiku, Palestine itu letaknya disini, dihatiku…” Ahmed menunjuk bagian dadanya yang bidang, “Aku bagian dari Palestine, begitupun sebaliknya…”

Aku tertegun mendengar kalimat barusan. Kupeluk tubuh kakak laki-lakiku itu kuat-kuat dan menangis di pundaknya.

***

            Sepuluh menit nyaris subuh.

            Semua pasien rumah sakit darurat yang berniat shaum hari ini baru saja menyelesaikan santapan sahur. Selepas subuh nanti, aku dan Ahmed harus kembali ke rumah. Hari ini ada ujian tahfidz Qur’an di sekolah dan aku tak akan melewatkannya. Meski harusnya Ibu hadir sebagai penyemangat, tapi tak apalah. Semoga hasil yang kubawa padanya nanti akan lebih menggembirakan.

***

            “Dengarkan aku…” Ahmed menatapkuku seperti tak mengizinkan aku pergi sekolah hari ini. “Aku mendengar kabar bahwa akan ada serangan darat oleh Israel dalam waktu dekat, jadi keluarkan batu-batu dalam tasmu dan bawalah granat ini. Ini dapat membantumu melawan kafir laknatullah itu saat keadaan terdesak”

            Granat yang ada dalam genggaman Ahmed berjenis AN-M14 Incendiary grenade (TH3), atau yang biasa disebut granat pembakar. Efek yang dihasilkan dari granat jenis ini adalah luka bakar yang paling parah dan menyakitkan, karena kandungan thermat dan fosfor didalamnya apabila terbakar akan menghasilkan suatu partikel kimia yang mampu membakar hingga menembus  kulit, saraf, otot, juga tulang. Selain itu, fosfor yang beracun itu dapat menyebabkan kematian.[3] Aku bahkan tak mampu membayangkan apa yang akan terjadi bila granat itu diaktifkan.

            “Darimana kakak temukan itu?”

            “Kamar ayah. Kau tahu cara pakainya, kan?”

            “Ya! Ayah pernah mengajari kita” kataku yakin.

            “Pergilah ujian! Biar Allah yang menjagamu, kau gadis Palestina yang kuat”

            Kumasukkan kedalam tas granat yang Ahmed beri barusan, “Assalamu’alaykum…”

            “Wa’alaykumussalam…”

***

            Meski agak tertatih karena harus berjalan dengan sebuah tongkat yang menggantikan tugas kaki sebelah kananku, tapi niatku untuk ujian tahfidz tak boleh luntur meski jarak antara rumah dan sekolahku cukup memakan waktu yang tak sebentar. Kata Ustadz Yusuf , Murrobiku, hafalan-hafalan Quran inilah yang akan menolongku berjuang membela Palestina.

            “DUARRRR!!!”

            Suara bom itu memekakkan telingaku. Begitu nyaringnya hingga untuk beberapa saat aku tertegun menghadap ke belakang dan melihat kepulan asap hitam yang dihasilkan.

            “Palestine!!! Rumahmu…!!! Suara itu dari arah rumahmu!!”

            Aku tersentak. Barusan tadi teriakan Aisha, teman sekelas yang baru saja berpapasan denganku di gerbang sekolah.

            Pikiranku tak karuan. Aku ingat Ahmed dengan kondisinya sekarang, aku ingat Ibu yang terbaring di rumah sakit dan rencananya akan ku jenguk selepas ujian, aku ingat ujianku yang seharusnya tak kutinggalkan, aku ingat pesan terakhir ayah untuk membela tanah Palestina, aku ingat kata-kata Ahmed sebelum berangkat ke sekolah. Semuanya seperti gambar-gambar yang berputar dalam kepalaku. Membuatku mengambil kesimpulan untuk berbalik arah. Aku pulang.

            Tangisku semakin deras, mengiringi langkah kakiku yang mencoba berlari walau terpincang-pincang. Aku kalut oleh keadaan. Tak habis pikir cobaan yang tak ada habisnya menimpaku. Rasanya hampir putus asa.

            “Aduh!” Tongkatku mengantuk batu yang luput dari penglihatan. Aku terjatuh dan kaki kananku terasa begitu ngilu. Ingin rasanya memohon pertolongan, tapi aku tak akan melakukan itu. Aku gadis palestina yang kuat!

            Dengan tongkat yang ditegakkan, aku mencari cara untuk berdiri. Balutan kain kassa di kaki kananku sudah kotor dan compang-camping kubawa lari. Bahkan, di beberapa bagian lukaku yang lain tertutup pasir. Betapa perih rasanya. Kulirik betisku yang berdarah lagi karena lukanya belum kering. Kuatkan hambamu ini, Ya Allah…

            Aku terus berlari dengan tongkatku sekuat tenaga. Palestine kuat!!! Palestine kuat!!! Batinku bergemuruh. Lantunan ayat Al-Qur’an yang telah kuhafal selama ini seakan terdengar di telinga dan menguatkanku. Aku tak lagi menghiraukan suara deru senjata dari Yahudi Israel yang terus mencari korbannya.

            “Hh…hh…” Aku sampai di sebuah bangunan hitam yang hancur. Aku yakin ini rumahku meskipun sudah tak bisa dikenali bentuknya.

            “Ahmed… kakakku… dimana kau?” Suaraku serak oleh tangisan. Dengan sisa-sisa tenaga aku mencari Ahmed diantara kepingan bangunan yang hancur. Sunyi, tak ada jawaban sama sekali. Aku  putuskan untuk masuk lebih dalam lagi.

            SREET!

            Terdengar suara seperti benda yang bergeser. Disaat bersamaan, aku menemukan bagian kursi roda Ahmed yang telah hancur. “Kakak, kau kah itu?”

            “Ahmed?” Aku celingukan. Tak ada seorangpun disini. Apa aku hanya sedang berkhayal?

            “Hei, Bocah! Sepertinya mayat yang kau cari ada di sbelah sana… hahaha!” Suara berat itu membuat jantungku berdegup cepat. Seorang tentara Israel memergokiku. Senapannya menunjuk arah dimana kakakku berada.

            Aku melihatnya. Dialah kakakku Ahmed yang tubuhnya telah hangus terbakar. Betapa mengerikannya, tapi aku bersyukur karena Allah telah menerima satu lagi mujahid dari keluargaku.

            “Hahaha… menangislah sampai puas! Sebentar lagi kau pun akan menyusul mereka!”

            “Biadab kau!!” pekikku ditegah tangis yang hanya disambut dengan senyum sinis darinya. Aku mencoba bangkit dan mendekat ke mayat Ahmed, tapi tongkatku justru didorong tentara itu, membuatku terjatuh dan tak mampu kemana-mana.

            Kakakku Ahmed, sungguh aku tak melihatmu sebagai mayat hangus yang tak berdaya. Sebaliknya, kau justru kini kulihat sedang tersenyum menatapku dengan wajah yang amat tampan berseri. Lihat, gadis Palestina yang kuat ini akan balaskan dendammu. Aku tak akan mati di tanganya, kak. Tidak semudah itu! Aku hanya akan mati apabila tentara ini ikut mati juga bersamaku.

            Tiba-tiba aku teringat sesuatu yang sempat diberikan Ahmed. Sebuah benda yang berada dalam tas selempang yang masih ku kenakan. Aku mengupulkan keberanian untuk mengambil granat dan menarik pinnya. Tiba-tiba bayangan Ali dan Paman Amir mucul di samping bayangan Ahmed, mereka ikut tersenyum melihatku. Aku tak pernah sebahagia ini sebelumnya. O Allah, izinkan syahidku…

            Tentara zionis itu mengarahkan senapannya ke bagian kepalaku, “Jadi, katakan siapa namamu agar aku bisa mengenangnya!”

            Ibu, berjuanglah! Semoga hasil akhirku ini menggembirakanmu… Maafkan anakmu karena tak akan sempat lagi mengunjungimu di bumi Palestina…

            “Namaku Palestine!”

 ***




[1] Sumber : ISLAMPOS, Yahudi Kembali Kibarkan Bendera Israel di Al-Aqsha
[2] Kutipan kalimat dari Khalifah Abdul Hamid II (1902)
[3] Sumber : Wikipedia, Jenis-jenis granat

0 komentar: