Oleh : Fatmashely
Pertanyaan yang cukup menggelitik lamunan saya sejak kemarin sore ini akhirnya sukses menghasilkan sebuah tulisan selentingan untuk orang nomor satu di Republik Indonesia, Jokowi, yang dilantik hari ini (20/10).
Joko Widodo, atau yang akrab kita sapa Jokowi adalah sosok yang dikenal ramah, merakyat dan sederhana. Benar-benar sosok yang bisa disebut pantas memimpin sebuah negeri bernama Indonesia. Tentu saja, mulai hari ini harapan masyarakat Indonesia tertumpu pada pemimpin kelahiran Surakarta, 21 Juni 1961 itu.Harapan bangsa untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur seperti yang tertuang pada isi pembukaan UUD 1945 alinea ke 2 itu akan digantungkan pada pundak Jokowi selama 5 tahun ke depan.
Mengawali eksistensinya sejak menjadi walikota Solo yang mampu membawa sebuah penghargaan sebagai nominasi walikota terbaik ketiga di dunia versi majalah Time, kemudian diangkat menjadi Gubernur di DKI Jakarta pada tahun 2012 dan mulai dikenal masyarakat dunia dengan kebiasaan blusukannya. Lalu, apakah kebiasaan blusukan Jokowi akan terus berlanjut saat dia menjadi presiden? bukankah itu akan mengganggu kewibawaannya kelak?
Dikutip dari sebuah media terpercaya, VOA Indonesia, Jokowi menyatakan
akan tetap melakukan blusukan atau berkeliling wilayah Indonesia meski telah
menjabat Presiden. Menurut Jokowi, blusukan sudah menjadi hobby untuk
mengetahui kondisi masyarakat yang sebenarnya, bukan berdasar laporan
bawahan saja. Tentu saja, ini bukanlah hal aneh mengingat merakyatnya Jokowi dikenal dari hobi blusukannya itu. Namun, tidak sedikit juga masyarakat yang mengkritisi gaya blusukan tersebut sebagai tindakan kurang kerjaan dari seorang pemimpin. Disini, saya mengutip sebuah portal berita Online, WaspadaOnline, yang menyatakan bahwa Ramadhan, Wakil Sekretaris Jendral Partai Demokrat menyampaikan harapannya agar Jokowi mempunyai keteguhan hati nurani untuk memimpin 250 juta rakyat Indonesia nantinya. Mungkin statement diatas mampu memunculkan sebuah penilaian baru atas Jokowi, saya pun merasa baru ngeh kalau kegiatan 'merakyat' itu pada waktu-waktu tertentu bisa menjadikan seorang pemimpin menjadi kehilangan jiwa kepemimpinannya. meskipun di sisi lain mampu membangkitkan jiwa patriotik dalam hal dekat dengan rakyat dan ingin tahu masalah yang sesungguhnya. Sejatinya, seorang pemimpin menurut Robert Tanembaum adalah orang yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan,
mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab, supaya semua
bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan. Atau menurut pemahaman berdasar Pancasila, Pemimpin
harus bersikap sebagai pengasuh yang mendorong, menuntun, dan membimbing
asuhannya. Dengan kata lain, beberapa asas utama dari kepemimpinan Pancasila
adalah:-
Ing
Ngarsa Sung Tuladha: Pemimpin harus mampu dengan sifat dan perbuatannya
menjadikan dirinya pola anutan dan ikutan bagi orang – orang yang dipimpinnya.-
Ing
Madya Mangun Karsa: Pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan
berkreasi pada orang – orang yang dibimbingnya.
-
Tut
Wuri Handayani: Pemimpin harus mampu mendorong orang–orang yang diasuhnya
berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab.
Pertanyaan selanjutnya, "Kemanakah Indonesia akan dibawa Jokowi dengan gaya kepemimpinannya yang blusukan itu? bukankah masih banyak hal yang harus diperhatikan presiden tanpa harus meninjau langsung satu per satu lokasi yang akan diperbaiki? Bukankah sebagai kepala negara seharusnya ia bisa jadi sosok yang penuh ketegasan dan berjiwa pemimpin yang mampu mengoordinasikan seluruh kinerja para anggota kabinetnya?" Tentunya, pertanyaan diatas hanya mampu dibuktikan sendiri oleh Jokowi dan kabinetnya sepanjang masa jabatannya sebagai Presiden RI 2014-2019. Sebagai warga Indonesia, masyarakat hanya bisa berharap, semoga kelak orang nomor satu kami, Joko Widodo, mampu memimpin negri dan membawa Indonesia beserta 250 Juta rakyatnya ke arah yang lebih baik lagi serta mampu mewujudkan cita-cita sebagai bangsa yang adil, makmur, dan sejahtera.
Senin, 20 Oktober 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar