Cerpen By : Fatmashely
“Flo… sejak kamu ada disini, aku jadi nggak kesepian lagi…”
Kalimat itu membuat Flo melambung.
Sebuah kalimat sederhana namun mengandung efek dengan berjuta makna
didalamnya. Belum ada satu pun kalimat sakti mandraguna yang mampu
menandingi kekuatan kalimat itu bagi Flo. Berlebihan. Ya, memang sungguh
berlebihan hingga Flo merasa tersihir oleh kalimat sederhana itu.
Apalagi yang mengucapkannya hanyalah seorang anak kecil berusia delapan
tahun dengan tampang polosnya. Enca, nama panggilan anak itu. Seorang
anak tunggal dari seorang psikolog tersohor di daerah ini, Yoga
Pradipta.
Sungguh mempesona. Pasalnya saat bibir
mungilnya mengucap kalimat itu, senyum-senyum kecil menghiasi wajahnya.
Senyuman khas anak yang belum memikul dosa-dosa yang dilakukannya.
Senyum tanpa beban. Apalagi, kelopak matanya yang lucu itu. Sungguh
terlihat saat dia tersenyum, kelopak itu membentuk lengkungan kecil bak
bentuk pelangi pada gambar-gambar anak seusianya.
Enca membelai Flo, tersenyum untuk
kesekian kalinya—namun kali ini terlihat terpaksa. Terpaku. Belaiannya
mengisyaratkan kegetiran yang tengah menimpanya. Dari raut wajahnya Flo
melihat garis-garis kesedihan. Sangat kontras dengan perasaan Flo yang
baru sepersekian detik lalu digambarkan. Sesekali nafasnya terdengar
jelas. Ditarik sedalam-dalamnya, lalu dihembuskan sepanjang-panjangnya.
Ini nafas khas seseorang yang sedang menahan tangisnya.
“Flo…” Enca tercekat, beberapa bulir
peluh sebesar biji tauge mulai membasahi keningnya, menandakan penolakan
dari dalam dirinya untuk menahan rasa sakit hati yang tengah
dipendamnya. Otaknya seakan melakukan demo besar-besaran perihal
penolakan kesedihan yang membuat perasaannya rapuh saat ini. Tapi
sepertinya, hal itu bertentangan dengan hatinya yang ingin memendam
dalam-dalam rahasia kesedihan itu.
“Flo…”
Dua kali Enca memanggil Flo, tapi ia tak
juga melanjutkan kata-katanya. Batin Flo ingin tahu. Tapi apa yang bisa
dilakukan olehnya? Duduk di sampingnya dan mengusap punggungnya? Atau
sekadar berkata padanya bahwa Flo takkan membiarkan seorang pun
menyakiti hatinya dan bermaksud menenangkannya? Ya Tuhan… andai aku
dapat melakukan itu, batin Flo.
Enca menunduk lemah. Ia memejamkan kedua
matanya. Flo sungguh mengerti makna mengapa Enca melakukan itu. Ia tak
ingin air matanya menetes. Ditelannya ludah dan ia mulai mendongakkan
wajah. Matanya masih terpejam. Enca menarik nafas dan dihembuskannya
kembali. Sejurus kemudian, ia baru membuka matanya dan mencoba tersenyum
kembali.
Kejadian itu tepat sepuluh tahun yang
lalu, saat semestinya gadis seusia Enca mengenakan pakaian seragam
merah-putih dengan segala atributnya.
“Kamu enak ya, Flo… nggak ada yang
ngurung kamu di rumah, nggak ada yang bikin kamu kesepian, nggak ada
yang marahin kamu, nggak ada yang ngelarang kamu main sama siapapun…
nggak kayak aku….”
Akhirnya bibir mungil Enca terbuka juga.
Mengungkapkan seluruh keresahan yang dipendamnya selama ini. Ia
memejamkan matanya kembali, disertai beberapa kernyitan di antara kedua
alisnya. Mungkin sebab dari kalimat tadi yang seharusnya tidak
diucapkannya. Sungguh, sebaris kalimat tadi sama sekali tak
meringankannya, bahkan justru malah menambah bebannya. Kini peluhnya
kembali bercucuran. Air matanya sudah tak kuasa lagi terbendung. Meski
ia terpejam, aliran sungai kecil itu tetap bisa menyeruak keluar.
Membasahi pipi dan ujung bibirnya. Isak tangisnya mulai terdengar.
Bahunya mulai terguncang-guncang seirama dengan nada isakannya. Ah,
gadis sekecil itu…
Flo memahami kegetiran Enca. Apa yang
sekarang gadis itu hadapi, seakan turut pula dirasakan oleh Flo. Walau
Flo bukanlah tempat yang tepat untuk berbagi, namun ketulusan hati Enca
membuat Flo selalu merasa ada di dunia ini. Gadis kecil yang meyakini
bahwa Flo selalu ada di sampingnya, membuat tak hanya hatinya yang
berbahagia, tapi juga lawan bicaranya itu. Flo merasa Enca masih terlalu
muda untuk merasakan semua itu. Namun inilah dunia, dengan segala
sesuatu yang mesti setiap insan tuhan hadapi.
Flo ingat, bukan hal yang jarang Enca
menangis di hadapannya, mengungkapkan segala keluh kesahnya, membagi
cerita dan berharap—mungkin—Flo dapat sedikit membantunya. Namun, apa
yang bisa dilakukan Flo? Bukankah dengan berdiam begitu saja hanya akan
semakin menyakiti hatinya? Aku pun ingin sekali membantu Enca, andai aku
bisa, kilah Flo. Tapi apa yang mungkin bisa dilakukan Flo? Untuk
tersenyum di hadapan Enca pun, tak pernah sanggup ia lakukan. Walau
segala keresahan yang Enca senandungkan sambil menangis itu sudah
menjadi bagian dari hidup Flo.
“Flo… kayaknya ini bakal jadi pertemuan terakhir kita….”
Kata-kata terakhir Enca sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Flo.
***
PLAKK!!
Bunyi tamparan itu sangat nyaringnya
hingga Flo tersentak mendengarnya. Tak berapa lama, sayup-sayup isak
tangis pun mulai terdengar.
“Papa malu punya anak kayak kamu,
Maharani! Berasal dari keluarga terhormat tapi kelakuan nggak lain
daripada anak jalanan! Mau jadi apa kamu…?!”
Suara berat laki-laki itu sesungguhnya
tak asing dalam pendengaran Flo, hanya saja kali ini lebih terdengar
tegas. Gadis yang disebut-sebut bernama Maharani itu tersungkur sambil
memegang pipi dan pelipis kirinya. Kesakitan. Tak heran jika suara
tangisannya terdengar sampai di tempat Flo berdiri. Sedangkan seorang
wanita paruh baya yang juga ada di tempat yang sama dengan laki-laki itu
hanya berusaha menahan suaminya sambil berucap istighfar.
Gadis bernama Maharani itu mendekati papanya. Berlutut.
“Maaf, Pa… Rani nggak tau… Rani bingung…”
Laki-laki itu memalingkan wajahnya. Angkuh. Pandangan matanya nanar.
“Pa…” Maharani memeluk sebelah kaki
papanya “… harusnya Papa pahami Rani… Papa pikir Rani tenang selama ini?
Tanpa teman, tanpa sosialisasi, bahkan aku lebih mirip orang sakit jiwa
yang ditempatkan di ruang isolasi ketimbang orang waras… Rani tertekan,
Pa…” ia menarik nafasnya “Rani butuh teman… mestinya sebagai psikolog
Papa ngerti dong.”
“Jadi kamu mau bebas? Kamu nggak mau
lagi diurus Papa, heh?” Laki-laki itu menunduk “…kamu tertekan bersama
Papa? Jadi kamu pikir apa yang Papa lakukan bukan untuk kepentingan
kamu? Lalu kamu berontak, begitu? Kamu pikir hidup di luar itu nggak
keras, heh?!” Laki-laki itu mendorong tubuh Maharani, membuatnya
tersungkur.
“Bukan gitu, Pa… maksud Rani…” Maharani belum sempat melanjutkan kata-katanya.
“Ya, tapi ini yang kamu dapatkan dari apa yang kamu harapkan, bukan?... pergaulan bebas…”
“Pa… Maafin Rani!” Maharani menjerit.
“Papa nggak mau tahu!” jawabnya datar “Ma… bawa dia ke panti rehabilitasi…”
Istri laki-laki itu hanya mengangguk pasrah. Baginya, memang sudah tak ada pilihan terbaik.
***
“Aaaaarrrgh….”
Tubuh Maharani menggigil hebat, dipeluk
erat kedua lututnya. Sesekali diusap kedua lubang hidungnya seperti
hendak bersin. Ia sungguh tidak kuat menahan perasaan yang menimpanya.
Takut, lemas, serta merta menemaninya beberapa menit terakhir. Beberapa
orang suster lalu-lalang di hadapannya, tapi entah mengapa tak ada satu
pun yang menggubris keberadaannya. Mungkin bermaksud ingin memberinya
pelajaran atas kelakuan bodoh yang dilakukannya.
“Toloooooong!! Sakiiiit!!” terdengar sebuah teriakan dari ujung koridor panti rehabilitasi.
Maharani penasaran, dilupakannya rasa
sakit yang dirasakannya. Dengan serta merta ia mencoba bangkit dari
tempatnya, seakan rasa sakitnya itu tak seberapa dibanding rasa
penasarannya. Beberapa kali ia mencoba berdiri walau rasanya kedua kaki
Maharani sudah tak mampu lagi menopang badannya. Apalagi kondisinya
sakaw.
Tepat di depan ruangan tempat sumber
suara itu berasal, maharani mendapati sebuah celah kecil pada pintunya,
membuatnya dapat mengintip ke dalam ruangan. Otaknya terus
mengisyaratkan untuk tetap menatap celah itu, walau sakitnya
bertambah-tambah.
***
Pria itu meronta-ronta, menjerit sekuat
tenaga, mencurahkan segala tenaga yang ia punya hanya untuk berteriak.
Tubuhnya kurus kering, seperti orang yang tak mencicipi nikmatnya nasi
selama bertahun-tahun terakhir, hingga pada bagian depan tubuhnya
terlihat siluet membentuk tulang-tulang rusuk yang menonjol keluar.
Sungguh mengerikan. Pipinya peot seperti seorang kakek yang sudah bosan
menikmati pahit getirnya kehidupan. Sedang matanya yang cekung seakan
menyembul keluar.
Dokter yang menanganinya seperti sudah
tak kuasa. Berapapun banyaknya suster yang membantunya, wajah dokter itu
seperti mengisyaratkan kata menyerah.
“AAAAARRRGGH!!”
Pria itu mengejang. Matanya melotot.
Teriakan hebat menggema di seluruh ruangan. Dari mulutnya keluar cairan
putih mirip busa seperti orang yang memiliki penyakit epilepsi. Sungguh
pemandangan yang tak lazim.
Pria itu dinyatakan meninggal dunia.
***
Dua tahun sejak kepergian Enca kecil
dari rumah besarnya, Flo seperti anak yang ditelantarkan. Tak ada lagi
yang mengurusnya, tak ada lagi yang menemaninya. Flo selalu dirundung
kesedihan semenjak kepergian Enca. Sementara orang tua Enca, kini
memiliki kebahagiaan baru dengan adanya seorang makhluk mungil yang
seakan menggeser status peranan Enca di dalam keluarga itu…
“Flower…”
Suara itu! Flo hapal betul suara itu.
Itu suara Enca. Hati Flo melonjak gembira mendengar itu, seperti
menemukan sebuah oase ditengah hamparan padang pasir sedemikian luas.
“Kamu masih inget sama aku, Flo?”
Ya, tentu saja aku ingat siapa kamu, kamu Enca kecilku yang manis.
“Dua tahun nggak ketemu kamu, aku kangen
banget sama kamu… kamu udah besar ya, kayaknya kamu udah nggak cocok
dipanggil Flo, deh…”
Loh kenapa?
“Kamu udah jadi pohon, bukan bunga
lagi…hihihi...” senyum Enca merekah. Walau usianya hampir menginjak dua
puluh, wajahnya tak banyak berubah. Barisan giginya yang putih masih
sama seperti dulu.
“Banyak yang mau aku certain ke kamu…
salah satunya tentang perubahanku ini… banyak hal yang aku temuin di
panti rehabilitasi itu, Flo.”
Apa itu?
“Awalnya aku takut, tapi karna semua itu
juga satu per satu kebahagiaan mulai muncul… Allah emang adil, Flo…
Hikmah dan kebahagiaan selalu datang tepat pada waktunya… bahkan saat
aku pulang ke rumah, Papa sama Mama udah nyiapin kado spesial untuk aku,
Flo… seorang adik yang udah lama aku nanti-nanti.”
Adik yang dinanti-nanti?
Jadi, makhluk mungil yang disangka Flo telah menggeser peranan Enca itu, merupakan seorang yang dinanti-nanti?....
“Sayang, udah puas kangen-kangenan sama
bunganya? Makan dulu, yuk… kamu belum makan, kan?” dari dalam ruangan,
suara orangtua Enca memanggil.
“Aku makan dulu ya, Flo…” bisik Enca, tak berapa lama ia berlari ke dalam rumah.
Flo menatap gadis menginjak dewasa itu.
Terpaku. Hanya punggungnya saja yang terlihat saat ia berlari. Senja
Maharani Pradipta. Gadis kecil itu kini telah tumbuh dewasa. Parasnya
yang manis semakin terlihat menawan. Apalagi ditambah sebuah hijab yang
dikenakannya, membuatnya sungguh terlihat anggun. Tapi ia tetaplah tidak
berubah. Bagi Flo, ia tetaplah Enca yang dulu…
Flo mengukir senyum dalam hatinya…
Bekasi, 18 juli 2010
--------------------------------------------------------
Notes :
Ini cerpen yang aku tulis 4 tahun yang lalu dan alhamdulillah dimuat di Annida-Online.
Pertama kalinya dimuat sampai aku jingkrak-jingkrak waktu itu.. hahaha.. padahal sih, bayarannya cuma Rp50ribu :))
Baru ngeh juga kalau nama penaku tahun 2010 masih "Rofiapta Shely," dan karena dirasa kurang pas, akhirnya aku sihir aja dan berubah jadi "Fatmashely"
Jadi jangan heran, ya, kalau kalian baca versi Annida-nya nama yang tercantum bukan Fatmashely ;)
Mau baca versi Annida-Onlinenya? Boleeeh...!
Klik aja http://annida-online.com/artikel-2096-setitik-embun-untuk-senja.html
Salam Rindu,
Fatmashely
--------------------------------------------------------
Notes :
Ini cerpen yang aku tulis 4 tahun yang lalu dan alhamdulillah dimuat di Annida-Online.
Pertama kalinya dimuat sampai aku jingkrak-jingkrak waktu itu.. hahaha.. padahal sih, bayarannya cuma Rp50ribu :))
Baru ngeh juga kalau nama penaku tahun 2010 masih "Rofiapta Shely," dan karena dirasa kurang pas, akhirnya aku sihir aja dan berubah jadi "Fatmashely"
Jadi jangan heran, ya, kalau kalian baca versi Annida-nya nama yang tercantum bukan Fatmashely ;)
Mau baca versi Annida-Onlinenya? Boleeeh...!
Klik aja http://annida-online.com/artikel-2096-setitik-embun-untuk-senja.html
Salam Rindu,
Fatmashely

0 komentar:
Posting Komentar