Senin, 30 Juni 2014

Pelanggan Setia

0

 Cerpen by : Fatmashely

Laki-laki itu termenung. Dipeluk eratnya tumpukan koran yang ada dalam genggaman. Sejak tadi ia hanya memerhatikan rambu lalu lintas di perempatan jalan kota, melihat detik yang terus berjalan dan menunggunya berganti warna. Ditengah teriknya sinar matahari yang terasa makin menyelekit, peluhnya tak mau henti bercucuran di kening dan pelipisnya. Sementara puluhan mobil di depannya masih terus melaju pesat.

            “Sudah laku banyak, Bos?” Seseorang menegur sambil menepuk punggungnya. Laki-laki bertubuh kurus yang mengenakan rompi biru itu menengok. Ternyata Bang Doly, montir yang bengkelnya tak jauh dari perempatan lah yang menepuk punggungnya barusan.

            “Yah, biasa lah, Bang, kayak hari-hari sebelumnya…”

            “Maman... Maman..! kau ini masih saja bertahan dengan kerjaan kau yang tak menjanjikan itu…” Timpal Bang Doly dengan logat Bataknya yang terdengar kental.”.. tak adakah pikiran kau untuk ganti pekerjaan?”

            Maman hanya tersenyum samar mendengar ucapan bang Doly. Dipandangnya koran-koran yang harus dijajakannya hari ini. Sudah siang, tapi masih juga belum laku setengahnya. Maman tahu, pekerjaannya itu memang menyiksa. Tak banyak lagi orang yang mau mengeluarkan tiga lembar uang seribuan untuk membeli korannya walau hanya sebuah. Setiap hari, selalu berulang begitu. Hingga ia harus mengembalikan sisa korannya dengan perasaan tak enak.

            “Sudahlah, temani aku ke warteg, Man.. biar kutraktirlah kau sekali-sekali…”

            “Hahaha.. ada angin apa nih, Bang?”

            “Angin ribut! Ada-ada saja kau ini”

***

            Maman sebenanya bukanlah orang yang mau bertahan lama-lama dengan pekerjaannya. Menjadi penjaja koran bukanlah impian masa kecilnya. Namun, pekerjaan inilah yang membuatnya bertahan dari kejamnya dunia. Membuatnya mampu membayar setiap biaya tanggungan yang harus dikeluarkan, juga menjadi saksi atas keberhasilan anak-anaknya yang pandai di sekolah-sekolah mereka. Meski belakangan ini rasanya sulit benar, tapi inilah bukti kecintaannya pada istri dan kedua anaknya.

            Maman menyeruput segelas es teh manis yang dinginnya menyegarkan tenggorokan. Sepiring nasi dengan lauk tempe dan sayur asam kesukannya yang tadi tersaji dihadapannya telah ia habiskan.

            “Makin hari, makin menurun penghasilanku, Bang… Padahal  dulu aku nggak perlu nyamperin pembeli satu-satu kayak sekarang. Lha wong dulu mereka yang samperin aku, nyari koran…” Maman memulai pembicaraan. Bang Doly mendengarkan sambil mulutnya sibuk mengunyah makanan.

            “Mmm… ya. seingatku sih, dulu kau itu punya lapak yang selalu ramai. Mmm… sekarang malah kau yang mencari pembeli” Bang Doly bicara dengan mulut yang penuh sesak oleh makanan.

            Maman menggaruk kepalanya,”Itu lho Bang, mentang-mentang udah ada koran on-line, eh, yang cetak dilupain. Daripada ngeluarin uang tiga ribu sehari, mereka lebih milih tujuh puluh ribu sebulan” ia menggerutu.

            “Hahaha… ya berarti sudah pintar lah otak mereka. Lebih pilih media yang hitungannya lebih murah dan instan, Man”

            “Lha, tapi mereka jadi nggak mikirin keadaan wong cilik yang jual koran ini, Bang…” protes Maman, “… kalau inget keluarga yang butuh makan, anak ngerengek terus minta bayaran sekolah. Ah, ngenes banget, Bang…” Maman menunjuk dada kirinya “Sakitnya tuh disini…”

            “Anakmu yang kata kau dapat beasiswa itu, kuliahnya lanjut?”

            Maman tersenyum kecut, “Lanjut, Bang… sekarang semester tiga katanya”

            Anak maman yang paling tua itu Rani namanya. Maman ingat, saat pertama kali Rani menngabarkannya bahwa ia berhasil mendapat beasiswa, bangga benar rasanya. Anak pertama yang langganan berprestasi sejak kecil itu, lagi-lagi membuat senyum ayahnya mengembang.

            “Beasiswa Rani untuk delapan semester, Pak… syaratnya nilai Rani nggak boleh turun”

            “Kamu pasti bisa, Nduk… Bapak bangga sama kamu..”

            “Semua ini karena bapak… tentu saja…” Rani menatap Maman “… gara-gara dari kecil dibiasain baca berita di koran yang Bapak jual, Rani jadi suka bikin artikel. Bapak tau kan, waktu tulisan-tulisan Rani sering masuk majalah sama koran? Beberapa kali, Rani juga menang lomba karya tulis. Apa namanya kalau bukan karena bapak?”

            Mata Maman berkaca-kaca. Ia tak pernah menyangka punya nilai yang begitu berartinya dimata anak sulungnya itu.

            “Dan demi Bapak juga, Rani bakal usaha pertahanin beasiswa ini. Rani udah putuskan ambil jurusan jurnalistik, Pak… Mau jadi wartawan”

            Membayangkan anak kebanggaannya itu menjadi wartawati yang namanya akan tercantum di koran yang akan di jual Maman, membuat Maman semakin mendukung mimpi anakny itu. Meski entah kapan hal itu bisa terwujud, Maman terus saja menghayalkan hal itu pasti akan terjadi dan membutnya lebih bangga.

Sampai suatu hari, Rani berkata bahwa ia diminta bekerja pada salah satu media berita on-line di Jakarta. Sejak itu, Rani memang bukan hanya sekedar membaca, tapi juga menjadi pelanggan setia koran-koran milik bapaknya yang digunakan untuk meng-update berita-berita terbaru hari itu, sebelum ia berangkat ke kantornya. Menyenangkan memang, melihat Rani menjadi lebih rajin membaca koran, mempunyai pengetahuan tentang keadaan di lapangan yang lebih luas daripada orang lain dan berpartisipasi memajukan bangsa melalui tulisan-tulisannya. Tapi, mengingat pekerjaan anaknya itu bertentangan dengan pekerjaan Maman, ironis juga…

            “Lalu? Jangan bilang kau membenci anak kau karna pekerjaannya itu?” Bang Doly menyadarkan lamunan Maman.

            Maman menyeruput es tehnya lagi sampai habis, “Ya, nggak lah… meski sebenarnya sempat sakit hati juga, Bang. Semakin gaji anakku naik, ya, semakin gaji bapaknya turun. Media cetak udah nggak banyak yang minat, Bang… lebih menjamur media on line, gitu kata anakku… apa dia nggak ingat kalau selama ini kan dia makan dan sekolah karna Koran-koran ini….”

            Bang Doly menepuk dua kali pundak Maman yang duduk dismpingnya itu, “Jangan pernah kau berpikir kalau anakmu tak ingat itu, Man… Justru menurutku, dia paham betul kalau pekerjaan kau itu sudah tak diminati. Oleh karena itu, Rani bekerja di media on-line. Anak kau itu paham perubahan zaman, tahu? harusnya kau bangga…”

            Maman tersenyum sabil menggangguk perlahan.

            “Bukannya ingin mematikan pekerjaan Bapaknya. Ah, kau ini terlalu perasa, Man… Hahaha… dan jangan kau mengutuk media online. Apalagi, secara tak langsung Rani sudah jadi pelanggan setia kau…” Bang Doly mengakhiri kalimatnya. Dirogohnya kantong celana dan membayar seluruh makanan yang dipesannya dan Maman.

            Benarlah apa yang diucapkaan Bang Doly itu. Meski awalnya ia sempat kecewa saat Rani mengabarkan pekerjaan barunya menjadi jurnalis di media on-line, tapi sekarang pikirannya mulai terbuka bahwa perubahan sebenarnya tak selalu berdampak buruk. Meski media online kini menjamur, meski minat baca masyarakat terhadap media cetak menurun. Tapi Maman percaya, sampai kapanpun, media cetak tak akan pernah ditinggalkan dan dilupakan. Apalagi tergantikan oleh media on-line. Koran-koran Maman pasti akan tetap menemukan pelanggan-pelangan setianya.

                                                                             ***

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Well, jujur saja, cerpen ini aku ciptakan saat aku melihat seorang laki-laki yang menjajakan korannya, tapi terlalu banyak penolakan yang ia dapat. Sampai kasihan aku melihatnya... hingga jadilah cerpen diatas :)

Semoga para pembaca menikmatinya, ya...
ditunggu komentar dan masukannya :)

Salam rindu,

Fatmashely :)


Posted via Blogaway
Lokasi: 5, Medan Satria, Indonesia

0 komentar: