Jumat, 13 Februari 2015

Hujan Pelangi

2

Cerpen By Fatmashely


“Bismillah..”
Ketika jemariku mengetik barisan klimat ini, rasa-rasanya waktu berjalan begitu lambat. Mengizinkan otakku untuk memutar arah ke belakang. Merasakan betapa sungguh karunia Allah yang tak terhingga telah kujumpai. Mungkin, yaa mungkin disinilah titik untukku memaknai. Hmm.. kuakui sebelumnya tidak.
Aku Ashna, yang saat ini hanya bisa menatap layar monitor laptopku sementara pikiranku terus melayang. Hari ini, aku dihadapkan pada dua pilihan : Berhenti kuliah, atau aku akan terus mencekik ayahku dengan segala tunggakannya.
Kalau kau belum tahu alasannya, baiklah, aku akan ceritakan. Kalau kau mau menghakimiku, ‘kamu bisa kerja, kan?’ silakan. Tapi aku tak mau melakukannya. Idealism? Ya, mungkin sedikit. Selebihnya, aku berusaha realistis memandang hidup.
Sebelas bulan sebelum hari ini, aku masih berada diatas angin. Nggak perlu bigung hari ini gimana, besok makan apa. Semua tercukupi. Ayahku masih normal bekerja dengan gaji yang lebih dari cukup. Keadaan yang melenakkan sampai membuatku lupa bersyukur. Setiap bulan, kami pasti pergi ke supermarket untuk persiapan kebutuhan dapur, motorku masih rutin dicuci steam, bahkan aku lebih sering cuci pakaian di laundry. Mana kutahu kalau itu bulan terakhir aku bisa melakukannya?
                “Ayah nggak berangkat kerja?” kataku.
Ayah hanya memandangku sambil tersenyum kecut. Tak ada gairah sedikitpun. “Ayah mau antar kamu ke kampus, sekali-sekali”
“Loh? Aku kan bawa motorku sendiri. Nggak perlu diantar lah, lagipula aku masuk agak siang kok”
“Udahlah, yah..” Ibu berkata pada ayah tapi tatapan matanya kearahku.
Segalanya berubah sejak hari itu. Dari Ibu aku tahu, ayah sudah berhenti bekerja karena PHK.
Kaget? Putus asa? Tentu!. Aku bingung harus bagaimana. Apalagi, di bulan-bulan berikutnya ayah benar-benar mogok, sudah nggak mau bekerja lagi. Padahal uang tabungan kami semakin lama menipis. Rasanya tak karuan.
Ternyata efeknya nggak hanya terasa saat dirumah. Karena pikiran, nilai di kampus merosot. Gairah belajar sih tetap ada, tapi pikiran serabutan cari akal. Mungkin sudah miri orang gila, hahaha.
Sedikit kisah lucu setengah miris malah terjadi. Yoga, teman cowokku satu fakultas mendadak bilang cinta. Walah-walah. Dalam keadaan begini, hati ini rasanya lagi mati rasa sama hal-hal yang berbau cinta.
“Aku salah bilang sayang?” kata Yoga di hadapanku, sore itu.
“Nggak sama sekali” sahutku tanpa menatpnya.
“Tapi kenapa?” ungkapnya menggantung.
“Sikonnya nggak tepat, Yog. Maaf yaa..”
***
                Tiga bulan setelahnya, di pertengahan semester aku putuskan untuk dagang di kampus. Pagi-pagi sekali, kujemput kue-kue di pasar untuk dibawa. Setiap hari begitu. Kalau bukan untuk uang makan siangku, mungkin aku enggan melakukannya. Yap, benar dugaanmu, uang jajanku di stop. Ayah hanya member uang kuliah, bukan uang jajan.
                “Ashna!” Panggil seseorang diujung lorong fakultas, aku menoleh sambil tersenyum. Dua plastic besar di tanganku masih mnggelayut.
                “Masih ada kuenya?” kata dia.
                Senyumku makin mengembang. Kupamerkan dua kantong besar itu, “Masih banyak, nih!”
                Begitulah aku, setiap hari sampai akhir semester ini.
***
                “Ayah… gimana kuliahku?” kataku sembari mengambil kerupuk udang untuk lauk makan. Ayah hanya diam tak bergeming.
                “Sekai ini aja, aku minta tolong, Yah… Aku gagal kumpulin uang dari dagangan…”
                “Tabungan ayah sudah habis, Ashna…”
                Aku sangat ingat hari itu. Aku merasa tuhan tak adil. Kenapa harus aku? Sambil menahn isak tangis aku berlari ke kamar. “AAAARRRRRGGGHHH…!!!!” Rasanya ingin teriak. Detik itu, sepertinya aku tak punya rongga dada. Semua penuh sesak.
                Aku ingat dulu, saat semua masih indah. Aku ingat dulu, saat ayah dengan mudahnya memberiku uang. Aku ingat dulu, saat bisa memilih sekolah terbaik. Semua seperti baru sekejap lalu kualami, tapi sekarang hilang entah dimana. Oh Ashna… apa dunia ini akan berakhir?
                Aku hanya menangis.
                Menangis.
                Dan menangis hampir setiap malam.
                Meratapi nasib…
                Kalau boleh jujur, semua tangisan ini sebenarnya hanya menguras energiku saja. Menyisakan wajah lengket bekas air mata. Mata yang sembab dan pipi mengembung ini justru menyiksaku kemudian. Belum lagi hidungku yang tersumbat, membuatku harus rela bernafas dari mulut saat tidur.
***
                “Ada kalanya kamu jatuh, Ashna…” kataku pada cermin sambil berusaha tersenyum, “Saatnya bangkit, bukan menyesali..”
                Aku merapikan ujung rambutku dengan sisir yang tergeletak di dekat cermin. Entah dapat semangat darimana, hingga pagi tadi aku bisa melakukannya.
                “SEMANGAT ASHNAAAAAA…!!! LIFE MUST GO ON, YEAAAAAH!!!!!”
                “If I can dream it, I’ll get it…!”
                Seperti orang gila. Aku memotivasi diriku sendiri.
                “Ashna! Kamu kenapa sih?!” Ibuku masuk kamar dengan sewot. Aku hanya tersenyum memamerkan gigi.
                “Bu, Ashna mau cuti..!” kataku.
                “Harusnya kamu nggak perlu lakuin itu. Kamu mau kerja? Kan bisa kuliah sambil kerja…”
                “Nggak bu, aku mau buka usaha, buka toko. Dalam satu tahun cuti, aku mau kembangin seluas-luasnya… Ashna sedikit lagi sukses, Bu! Asal ibu berdoa terus yaa.. jangan berhenti. Bu, Ashna bukan cuma menghayal. Kali ini serius!” Aku melihat ibu memandangku lembut sekali sambil menggumam, Aamiin…
                “Modalnya?” Akhirnya ibu angkat bicara.
                “Dari Allah lah, ntar juga ada jalannya, Insyaa Allah”
                “Kenapa nggak kerja?”
                “Motor kita tinggal satu sejak ayah nggak kerja, Bu. Ada banyak lowongan kalau aku mau kerja jauh. Tapi itu perlu modal transport. Kalau mau yang dekat, hmm… lihat nanti lah bu. Allah pasti beri jalan. Tapi misalkan aku kerja, maka itu buat nambah modal, bukan penghasilan utama. Usahaku mau kujadikan investasi, Bu.. buat keluarga kita”
                “Buat masa tua ayah dan ibu…” ujarku dengan idealisme yang tinggi. “Do’akan aku yang terbaik, Bu.. saat ini modalku hanya do’amu…”
                “Aamiin…” kata ibu.
                Aku kembali menatap cermin. Melihat betapa beraninya aku membuat keputusan sekarang. Ashna yang sekarang jauh lebih kuat…
***
Bekasi, 13 Februari 2015
                “Sekarang aku mengerti, kenapa Allah berikan begitu banyak pilihan dan cobaan dalam hidup. Tidak lain karena hidup ini terlalu indah, tapi tidak berwarna tanpa pilihan dan cobaan. Kalau kamu pernah mendapatkan keduanya, bersyukurlah. Berarti tidak lama lagi hidupmu akan semakin indah dan berwarna…"

-ASHNA-

2 komentar:

Unknown mengatakan...

Semangat ashna, Sesungguhnya Allah tidak pernah tidur

Unknown mengatakan...

Semangat Ashna,Sesungguhnya Allah tidak akan pernah tidur