Senin, 20 Oktober 2014

Jokowi jadi Presiden, Indonesia mau dibawa kemana?

0

Oleh : Fatmashely
        Pertanyaan yang cukup menggelitik lamunan saya sejak kemarin sore ini akhirnya sukses menghasilkan sebuah tulisan selentingan untuk orang nomor satu di Republik Indonesia, Jokowi, yang dilantik hari ini (20/10).
        Joko Widodo, atau yang akrab kita sapa Jokowi adalah sosok yang dikenal ramah, merakyat dan sederhana. Benar-benar sosok yang bisa disebut pantas memimpin sebuah negeri bernama Indonesia. Tentu saja, mulai hari ini harapan masyarakat Indonesia tertumpu pada pemimpin kelahiran Surakarta, 21 Juni 1961 itu.Harapan bangsa untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur seperti yang tertuang pada isi pembukaan UUD 1945 alinea ke 2 itu akan digantungkan pada pundak Jokowi selama 5 tahun ke depan.
        Mengawali eksistensinya sejak menjadi walikota Solo yang mampu membawa sebuah penghargaan sebagai nominasi walikota terbaik ketiga di dunia versi majalah Time, kemudian diangkat menjadi Gubernur di DKI Jakarta pada tahun 2012 dan mulai dikenal masyarakat dunia dengan kebiasaan blusukannya. Lalu, apakah kebiasaan blusukan Jokowi akan terus berlanjut saat dia menjadi presiden? bukankah itu akan mengganggu kewibawaannya kelak?
        Dikutip dari sebuah media terpercaya, VOA Indonesia, Jokowi menyatakan akan tetap melakukan blusukan atau berkeliling wilayah Indonesia meski telah menjabat Presiden. Menurut Jokowi, blusukan sudah menjadi hobby untuk mengetahui kondisi masyarakat yang sebenarnya, bukan berdasar laporan bawahan saja.        Tentu saja, ini bukanlah hal aneh mengingat merakyatnya Jokowi dikenal dari hobi blusukannya itu. Namun, tidak sedikit juga masyarakat yang mengkritisi gaya blusukan tersebut sebagai tindakan kurang kerjaan dari seorang pemimpin. Disini, saya mengutip sebuah portal berita Online, WaspadaOnline, yang menyatakan bahwa Ramadhan, Wakil Sekretaris Jendral Partai Demokrat menyampaikan harapannya agar Jokowi mempunyai keteguhan hati nurani untuk memimpin 250 juta rakyat Indonesia nantinya.        Mungkin statement diatas mampu memunculkan sebuah penilaian baru atas Jokowi, saya pun merasa baru ngeh kalau kegiatan 'merakyat' itu pada waktu-waktu tertentu bisa menjadikan seorang pemimpin menjadi kehilangan jiwa kepemimpinannya. meskipun di sisi lain mampu membangkitkan jiwa patriotik dalam hal dekat dengan rakyat dan ingin tahu masalah yang sesungguhnya.        Sejatinya, seorang pemimpin menurut Robert Tanembaum adalah orang yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan.        Atau menurut pemahaman berdasar Pancasila, Pemimpin harus bersikap sebagai pengasuh yang mendorong, menuntun, dan membimbing asuhannya. Dengan kata lain, beberapa asas utama dari kepemimpinan Pancasila adalah:-          Ing Ngarsa Sung Tuladha: Pemimpin harus mampu dengan sifat dan perbuatannya menjadikan dirinya pola anutan dan ikutan bagi orang – orang yang dipimpinnya.-          Ing Madya Mangun Karsa: Pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan berkreasi pada orang – orang yang dibimbingnya.     -          Tut Wuri Handayani: Pemimpin harus mampu mendorong orang–orang yang diasuhnya berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab.            
        Pertanyaan selanjutnya, "Kemanakah Indonesia akan dibawa Jokowi dengan gaya kepemimpinannya yang blusukan itu? bukankah masih banyak hal yang harus diperhatikan presiden tanpa harus meninjau langsung satu per satu lokasi yang akan diperbaiki? Bukankah sebagai kepala negara seharusnya ia bisa jadi sosok yang penuh ketegasan dan berjiwa pemimpin yang mampu mengoordinasikan seluruh kinerja para anggota kabinetnya?"        Tentunya, pertanyaan diatas hanya mampu dibuktikan sendiri oleh Jokowi dan kabinetnya sepanjang masa jabatannya sebagai Presiden RI 2014-2019. Sebagai warga Indonesia, masyarakat hanya bisa berharap, semoga kelak orang nomor satu kami, Joko Widodo, mampu memimpin negri dan membawa Indonesia beserta 250 Juta rakyatnya ke arah yang lebih baik lagi serta mampu mewujudkan cita-cita sebagai bangsa yang adil, makmur, dan sejahtera.

Jumat, 03 Oktober 2014

Setitik Embun untuk Senja

0


Cerpen By : Fatmashely

      “Flo… sejak kamu ada disini, aku jadi nggak kesepian lagi…”

Kalimat itu membuat Flo melambung. Sebuah kalimat sederhana namun mengandung efek dengan berjuta makna didalamnya. Belum ada satu pun kalimat sakti mandraguna yang mampu menandingi kekuatan kalimat itu bagi Flo. Berlebihan. Ya, memang sungguh berlebihan hingga Flo merasa tersihir oleh kalimat sederhana itu. Apalagi yang mengucapkannya hanyalah seorang anak kecil berusia delapan tahun dengan tampang polosnya. Enca, nama panggilan anak itu. Seorang anak tunggal dari seorang psikolog tersohor di daerah ini, Yoga Pradipta.

     Sungguh mempesona. Pasalnya saat bibir mungilnya mengucap kalimat itu, senyum-senyum kecil menghiasi wajahnya. Senyuman khas anak yang belum memikul dosa-dosa yang dilakukannya. Senyum tanpa beban. Apalagi, kelopak matanya yang lucu itu. Sungguh terlihat saat dia tersenyum, kelopak itu membentuk lengkungan kecil bak bentuk pelangi pada gambar-gambar anak seusianya.

Enca membelai Flo, tersenyum untuk kesekian kalinya—namun kali ini terlihat terpaksa. Terpaku. Belaiannya mengisyaratkan kegetiran yang tengah menimpanya. Dari raut wajahnya Flo melihat garis-garis kesedihan. Sangat kontras dengan perasaan Flo yang baru sepersekian detik lalu digambarkan. Sesekali nafasnya terdengar jelas. Ditarik sedalam-dalamnya, lalu dihembuskan sepanjang-panjangnya. Ini nafas khas seseorang yang sedang menahan tangisnya.

     “Flo…” Enca tercekat, beberapa bulir peluh sebesar biji tauge mulai membasahi keningnya, menandakan penolakan dari dalam dirinya untuk menahan rasa sakit hati yang tengah dipendamnya. Otaknya seakan melakukan demo besar-besaran perihal penolakan kesedihan yang membuat perasaannya rapuh saat ini. Tapi sepertinya, hal itu bertentangan dengan hatinya yang ingin memendam dalam-dalam rahasia kesedihan itu.

        “Flo…”

      Dua kali Enca memanggil Flo, tapi ia tak juga melanjutkan kata-katanya. Batin Flo ingin tahu. Tapi apa yang bisa dilakukan olehnya? Duduk di sampingnya dan mengusap punggungnya? Atau sekadar berkata padanya bahwa Flo takkan membiarkan seorang pun menyakiti hatinya dan bermaksud menenangkannya? Ya  Tuhan… andai aku dapat melakukan itu, batin Flo.

     Enca menunduk lemah. Ia memejamkan kedua matanya. Flo sungguh mengerti makna mengapa Enca melakukan itu. Ia tak ingin air matanya menetes. Ditelannya ludah dan ia mulai mendongakkan wajah. Matanya masih terpejam. Enca menarik nafas dan dihembuskannya kembali. Sejurus kemudian, ia baru membuka matanya dan mencoba tersenyum kembali.

Kejadian itu tepat sepuluh tahun yang lalu, saat semestinya gadis seusia Enca mengenakan pakaian seragam merah-putih dengan segala atributnya.

     “Kamu enak ya, Flo… nggak ada yang ngurung kamu di rumah, nggak ada yang bikin kamu kesepian, nggak ada yang marahin kamu, nggak ada yang ngelarang kamu main sama siapapun… nggak kayak aku….”

     Akhirnya bibir mungil Enca terbuka juga. Mengungkapkan seluruh keresahan yang dipendamnya selama ini. Ia memejamkan matanya kembali, disertai beberapa kernyitan di antara kedua alisnya. Mungkin sebab dari kalimat tadi yang seharusnya tidak diucapkannya. Sungguh, sebaris kalimat tadi sama sekali tak meringankannya, bahkan justru malah menambah bebannya. Kini peluhnya kembali bercucuran. Air matanya sudah tak kuasa lagi terbendung. Meski ia terpejam, aliran sungai kecil itu tetap bisa menyeruak keluar. Membasahi pipi dan ujung bibirnya. Isak tangisnya mulai terdengar. Bahunya mulai terguncang-guncang seirama dengan nada isakannya. Ah, gadis sekecil itu…

     Flo memahami kegetiran Enca. Apa yang sekarang gadis itu hadapi, seakan turut pula dirasakan oleh Flo. Walau Flo bukanlah tempat yang tepat untuk berbagi, namun ketulusan hati Enca membuat Flo selalu merasa ada di dunia ini. Gadis kecil yang meyakini bahwa Flo selalu ada di sampingnya, membuat tak hanya hatinya yang berbahagia, tapi juga lawan bicaranya itu. Flo merasa Enca masih terlalu muda untuk merasakan semua itu. Namun inilah dunia, dengan segala sesuatu yang mesti setiap insan tuhan hadapi.

     Flo ingat, bukan hal yang jarang Enca menangis di hadapannya, mengungkapkan segala keluh kesahnya, membagi cerita dan berharap—mungkin—Flo dapat sedikit membantunya. Namun, apa yang bisa dilakukan Flo? Bukankah dengan berdiam begitu saja hanya akan semakin menyakiti hatinya? Aku pun ingin sekali membantu Enca, andai aku bisa, kilah Flo. Tapi apa yang mungkin bisa dilakukan Flo? Untuk tersenyum di hadapan Enca pun, tak pernah sanggup ia lakukan. Walau segala keresahan yang Enca senandungkan sambil menangis itu sudah menjadi bagian dari hidup Flo.

     “Flo… kayaknya ini bakal jadi pertemuan terakhir kita….”

Kata-kata terakhir Enca sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Flo.

***

     PLAKK!!

Bunyi tamparan itu sangat nyaringnya hingga Flo tersentak mendengarnya. Tak berapa lama, sayup-sayup isak tangis pun mulai terdengar.

     “Papa malu punya anak kayak kamu, Maharani! Berasal dari keluarga terhormat tapi kelakuan nggak lain daripada anak jalanan! Mau jadi apa kamu…?!”

    Suara berat laki-laki itu sesungguhnya tak asing dalam pendengaran Flo, hanya saja kali ini lebih terdengar tegas. Gadis yang disebut-sebut bernama Maharani itu tersungkur sambil memegang pipi dan pelipis kirinya. Kesakitan. Tak heran jika suara tangisannya terdengar sampai di tempat Flo berdiri. Sedangkan seorang wanita paruh baya yang juga ada di tempat yang sama dengan laki-laki itu hanya berusaha menahan suaminya sambil berucap istighfar.

      Gadis bernama Maharani itu mendekati papanya. Berlutut.

      “Maaf, Pa… Rani nggak tau… Rani bingung…”

   Laki-laki itu memalingkan wajahnya. Angkuh. Pandangan matanya nanar.

     “Pa…” Maharani memeluk sebelah kaki papanya “… harusnya Papa pahami Rani… Papa pikir Rani tenang selama ini? Tanpa teman, tanpa sosialisasi, bahkan aku lebih mirip orang sakit jiwa yang ditempatkan di ruang isolasi ketimbang orang waras… Rani tertekan, Pa…” ia menarik nafasnya “Rani butuh teman… mestinya sebagai psikolog Papa ngerti dong.”

     “Jadi kamu mau bebas? Kamu nggak mau lagi diurus Papa, heh?” Laki-laki itu menunduk “…kamu tertekan bersama Papa? Jadi kamu pikir apa yang Papa lakukan bukan untuk kepentingan kamu? Lalu kamu berontak, begitu? Kamu pikir hidup di luar itu nggak keras, heh?!” Laki-laki itu mendorong tubuh Maharani, membuatnya tersungkur.

     “Bukan gitu, Pa… maksud Rani…” Maharani belum sempat melanjutkan kata-katanya.

      “Ya, tapi ini yang kamu dapatkan dari apa yang kamu harapkan, bukan?... pergaulan bebas…”

      “Pa… Maafin Rani!” Maharani menjerit.

    “Papa nggak mau tahu!” jawabnya datar “Ma… bawa dia ke panti rehabilitasi…”

      Istri laki-laki itu hanya mengangguk pasrah. Baginya, memang sudah tak ada pilihan terbaik.

***

     “Aaaaarrrgh….”

     Tubuh Maharani menggigil hebat, dipeluk erat kedua lututnya. Sesekali diusap kedua lubang hidungnya seperti hendak bersin. Ia sungguh tidak kuat menahan perasaan yang menimpanya. Takut, lemas, serta merta menemaninya beberapa menit terakhir. Beberapa orang suster lalu-lalang di hadapannya, tapi entah mengapa tak ada satu pun yang menggubris keberadaannya. Mungkin bermaksud ingin memberinya pelajaran atas kelakuan bodoh yang dilakukannya.

     “Toloooooong!! Sakiiiit!!” terdengar sebuah teriakan dari ujung koridor panti rehabilitasi.

     Maharani penasaran, dilupakannya rasa sakit yang dirasakannya. Dengan serta merta ia mencoba bangkit dari tempatnya, seakan rasa sakitnya itu tak seberapa dibanding rasa penasarannya. Beberapa kali ia mencoba berdiri walau rasanya kedua kaki Maharani sudah tak mampu lagi menopang badannya. Apalagi kondisinya sakaw.

Tepat di depan ruangan tempat sumber suara itu berasal, maharani mendapati sebuah celah kecil pada pintunya, membuatnya dapat mengintip ke dalam ruangan. Otaknya terus mengisyaratkan untuk tetap menatap celah itu, walau sakitnya bertambah-tambah.

***

     Pria itu meronta-ronta, menjerit sekuat tenaga, mencurahkan segala tenaga yang ia punya hanya untuk berteriak. Tubuhnya kurus kering, seperti orang yang tak mencicipi nikmatnya nasi selama bertahun-tahun terakhir, hingga pada bagian depan tubuhnya terlihat siluet membentuk tulang-tulang rusuk yang menonjol keluar. Sungguh mengerikan. Pipinya peot seperti seorang kakek yang sudah bosan menikmati pahit getirnya kehidupan. Sedang matanya yang cekung seakan menyembul keluar.

     Dokter yang menanganinya seperti sudah tak kuasa. Berapapun banyaknya suster yang membantunya, wajah dokter itu seperti mengisyaratkan kata menyerah.

      “AAAAARRRGGH!!”

     Pria itu mengejang. Matanya melotot. Teriakan hebat menggema di seluruh ruangan. Dari mulutnya keluar cairan putih mirip busa seperti orang yang memiliki penyakit epilepsi. Sungguh pemandangan yang tak lazim.

Pria itu dinyatakan meninggal dunia.

***

     Dua tahun sejak kepergian Enca kecil dari rumah besarnya, Flo seperti anak yang ditelantarkan. Tak ada lagi yang mengurusnya, tak ada lagi yang menemaninya. Flo selalu dirundung kesedihan semenjak kepergian Enca. Sementara orang tua Enca, kini memiliki kebahagiaan baru dengan adanya seorang makhluk mungil yang seakan menggeser status peranan Enca di dalam keluarga itu…

     “Flower…”

     Suara itu! Flo hapal betul suara itu. Itu suara Enca. Hati Flo melonjak gembira mendengar itu, seperti menemukan sebuah oase ditengah hamparan padang pasir sedemikian luas.

      “Kamu masih inget sama aku, Flo?”

     Ya, tentu saja aku ingat siapa kamu, kamu Enca kecilku yang manis.

     “Dua tahun nggak ketemu kamu, aku kangen banget sama kamu… kamu udah besar ya, kayaknya kamu udah nggak cocok dipanggil Flo, deh…”

      Loh kenapa?

     “Kamu udah jadi pohon, bukan bunga lagi…hihihi...” senyum Enca merekah. Walau usianya hampir menginjak dua puluh, wajahnya tak banyak berubah. Barisan giginya yang putih masih sama seperti dulu.

      “Banyak yang mau aku certain ke kamu… salah satunya tentang perubahanku ini… banyak hal yang aku temuin di panti rehabilitasi itu, Flo.”

     Apa itu?

     “Awalnya aku takut, tapi karna semua itu juga satu per satu kebahagiaan mulai muncul… Allah emang adil, Flo… Hikmah dan kebahagiaan selalu datang tepat pada waktunya… bahkan saat aku pulang ke rumah, Papa sama Mama udah nyiapin kado spesial untuk aku, Flo… seorang adik yang udah lama aku nanti-nanti.”

Adik yang dinanti-nanti?

Jadi, makhluk mungil yang disangka Flo telah menggeser peranan Enca itu, merupakan seorang yang dinanti-nanti?....

      “Sayang, udah puas kangen-kangenan sama bunganya? Makan dulu, yuk… kamu belum makan, kan?” dari dalam ruangan, suara orangtua Enca memanggil.

     “Aku makan dulu ya, Flo…” bisik Enca, tak berapa lama ia berlari ke dalam rumah.

     Flo menatap gadis menginjak dewasa itu. Terpaku. Hanya punggungnya saja yang terlihat saat ia berlari. Senja Maharani Pradipta. Gadis kecil itu kini telah tumbuh dewasa. Parasnya yang manis semakin terlihat menawan. Apalagi ditambah sebuah hijab yang dikenakannya, membuatnya sungguh terlihat anggun. Tapi ia tetaplah tidak berubah. Bagi Flo, ia tetaplah Enca yang dulu…

Flo mengukir senyum dalam hatinya…

Bekasi, 18 juli 2010

--------------------------------------------------------

Notes :
Ini cerpen yang aku tulis 4 tahun yang lalu dan alhamdulillah dimuat di Annida-Online.
Pertama kalinya dimuat sampai aku jingkrak-jingkrak waktu itu.. hahaha.. padahal sih, bayarannya cuma Rp50ribu :))

Baru ngeh juga kalau nama penaku tahun 2010 masih "Rofiapta Shely," dan karena dirasa kurang pas, akhirnya aku sihir aja dan berubah jadi "Fatmashely"
Jadi jangan heran, ya, kalau kalian baca versi Annida-nya nama yang tercantum bukan Fatmashely ;)

Mau baca versi Annida-Onlinenya? Boleeeh...!
Klik aja http://annida-online.com/artikel-2096-setitik-embun-untuk-senja.html


Salam Rindu,

Fatmashely

Aku Ingin Menulis Buku!

0

Bismillah :)

Agak terlambat memang, tapi aku hanya ingin berbagi cerita tentang konsep yang dijadikan tugas oleh Bang Helza, dosen dalam mata kuliah Fotografi yang aku ikuti kemarin, Selasa (30/9)

Tau nggak? sebuah konsep pemikiran yang awalnya aku anggap hanya sebuah keisengan, bahkan lebih mirip gambar anak di taman kanak-kanak, justru mendapat apresiasi dari Bang Helza dan teman-teman sekelas yang subhanallah sekali :')

Dalam konsep itu, aku mempresentasikan tentang sebuah mimpi. karena sebelumnya aku tergelitik oleh sebuah kalimat dari temanku, "Pemuda sekarang seperti tidak punya mimpi."

Tentu saja, aku patahkan kalimat itu.

Aku--yang punya segudang mimpi--malah justru berpresentasi tentang sebuah impian : "Aku Ingin Menulis Buku!" berikut alasan kenapa aku menginginkannya.

Buku, aku selalu ingin ada namaku yang terpampang disana. buakan karena alasan eksistensi, tapi aku ingin bagaimana agar para pembacaku nantinya dapat juga mengeri cara aku berpikir dan menerjemahkan suatu hal. Aku pasti akan melakukannya. *Optimis*

"Saat saya membaca, saya melihat dunia. Tapi saat saya menulis, dunia yang melihat saya" itu sepenggal kalimat di akhir presentasiku yang mengundang tepuk tangan seluruh teman-teman di ruangan. Benar-benar nggak menyangka akan dapat respon yang demikian kuatnya. Apalagi, saat Bang helza bilang, "Presentasi kamu keren! Konsep kamu bagus! Lengkap, dan saya suka banget kalimat akhirnya. Itu klimaks menurut saya..."

Terharu :')

Nanti, kalau handphoneku sudah benar, pasti aku posting juga foto-foto karyaku sebagai inspirasi untuk kalian. *Pengen banget pamer*



See yaaaa,

@Fatmashely_


Rabu, 01 Oktober 2014

Dibalik Balutan Luka

0

Cerpen by : Fatmashely

            Serangan udara yang dilancarkan zionis Israel akhir-akhir ini semakin membabibuta. Yang kutahu dari siaran berita di televisi, penyebabnya karena tiga pemuda Israel dinyatakan mati dibunuh di kawasan Palestina. Menurut tuduhan mereka, pasukan Hamas lah yang menyandera para pemuda itu. Ah, geram sekali aku mendengarnya. Apalagi, setelah aku tahu kalau korban terbunuh dari serangan mereka tak kurang dari 160 warga Palestina.

Masjidil Al-Aqsha pun kini juga telah di boikot para tentara biadab itu. Yahudi menyebutnya sebagai “Temple Mount” dan mengklaim daerah itu sebagai tempat berdirinya dua kuil Yahudi pada masa lalu.[1] Masya Allah… sepertinya mereka pura-pura lupa kalau ini bulan Ramadhan.

            “Ada kabar baik apa untuk negara kita, Palestine?” Ibu yang sedang sibuk menyiapkan makan untuk berbuka menyapaku saat baru pulang dari kamp pengungsian yang tak terlalu jauh dari rumah. Ibu tahu, hanya di kamp lah televisi bisa menyala karena dekat dengan sumber listrik. Selebihnya, listrik dipadamkan.

            “Seratus enam puluh mujahid baru, Bu. Paman Amir salah satunya…” kataku sambil membuka kerudung dan berjalan menghampiri Ibu. Sepertinya persediaan makanan kami hampir habis. Makanan yang kami punya ini pun datangnya dari saudara muslim kami di berbagai belahan dunia.

            Ibu tersenyum, “Alhamdulillah…”

            Tak dapat disembunyikan guratan kesedihan di wajah Ibu yang berusaha tegar. Bagaimanapun, hanya Paman Amir satu-satunya saudara kandung terakhir yang Ibu miliki. Sama seperti aku dan kakakku, Ahmed. Sementara adikku, Ali, telah mendahului kami saat ada serangan di dekat sekolahnya dua bulan kemarin. Lalu ayahku? Ia menghilang setahun ini, entah dimana keberadaannya. Semoga saja kini ia menjadi salah satu bagian tentara Hamas dan berjihad bersama tentara Al Qassam seperti impiannya.

            Ya, ayahku lah yang selalu menanamkan kecintaan keluarga kami pada negeri Palestina. Tanah ini milik muslim dan kita harus perjuangkan, katanya. Ia tak pernah sedikitpun lelah mengobarkan semangat untuk terus berjuang saat kami mulai rapuh mendapati satu per satu saudara dan sahabat kami pergi mendahului.

            Aku ingat nasehat terakhir ayahku sebelum ia pergi meniggalkan kami tanpa jejak, “Berjuanglah untuk negaramu, Palestine! Mereka bisa saja membunuhmu, kapanpun. Tapi kau jangan takut, jangan pernah gentar jalankan amanat mulia ini. Kalaupun kau harus mati, ingatlah kalau Allah yang akan menyambutmu dengan cinta-Nya…”

            “…Tanah Palestina adalah hak umat Islam. Mereka telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan telah menyiraminya dengan darah mereka. Selama aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Daulah Islamiyah. Perpisahan itu tidak akan terjadi!”[2]

            Benar-benar mengobarkan semangat, kan?

***

            Aku mendengar banyak suara rintihan disini, sekejap setelah aku tersadar. Suasana kacau. Banyak orang berseragam putih mondar-mandir dalam penglihatanku, sibuk membantu mereka yang menangis pedih meminta pertolongan. Aku mencoba menggerakan tubuh, rasanya remuk. Perlahan tapi pasti, perasaan nyeri di sekujur tubuh mulai terasa. Lebih-lebih di bagian betis kananku. O Allah, ada apa ini?

            “Kamu sudah sadar, Nona?” kata seorang wanita yang menghampiriku. Wajahnya besembunyi di balik masker berwarna hijau muda. Aku langsung bisa menebak kalau ia seorang suster yang bertugas di rumah sakit darurat.

            “hh..” aku melenguh menahan perih, “Aku…”

            “Jangan banyak bergerak dulu, kamu baru sadar dari pingsan dan keadaanmu luka parah” Suster itu memotong kalimatku, “Tadi ada serangan dari Israel… biar saya kasih kamu penghilang nyeri, ya…”

            Suster itu pergi dari hadapanku, bahkan sebelum aku diberitahu seberapa parah lukaku. Rasanya sangat nyeri di bagian kaki dan aku hanya bisa mengeluarkan beberapa tetes air dari sudut-sudut mataku. Aku tak akan pernah mengeluh sakit!

            Ahmed..?

Aku melihat kakakku menghampiri dengan kursi roda. Kedua kakinya diperban dan terlihat lebih pendek dari sebelumnya. Tiba-tiba rasa nyeri di tubuhku hilang dan sepertinya pindah ke hati. Miris rasanya melihat kakak kesayanganku itu harus diamputasi.

Sebetulnya, pemandangan seperti ini bukan yang pertama kalinya kulihat. Sudah banyak korban-korban kekejaman Israel yang harus rela kehilangan sebagian tubuhnya hanya demi bertahan hidup. Tapi rasanya aku tak bisa terima, kali ini harus keluargaku yang dapat giliran.

“Palestine itu kuat! Nggak cengeng seperti ini… ayo hapus air matamu!” kata Ahmed sambil mengusap air mataku.

“Dasar bodoh! Bisa-bisanya kakak berkata begitu…” tangisku bertambah deras, “Memangnya apa yang bisa kakak lakukan nanti dengan kursi roda?!” emosiku meluap. Aku benar-benar menyayangi kakakku.

“Aku masih bisa menjagamu, kan?” Ahmed tersenyum dan membiarkan aku menyelesaikan tangisku sendiri, “Aku belum diizinkan berjihad untuk negaraku, Palestine… padahal aku berharap begitu. Mungkin, Allah tak ingin membiarkan aku mati tanpa perlawanan…”

Aku tak mampu berkata apapun, hanya tersenyum mendengar kalimatnya barusan. Aku bangga memilikinya.

Suster yang tadi meninggalkanku telah kembali. Ia mengeluarkan jarum suntik yang masih steril dari bungkusan dan mengisinya dengan suatu cairan yang aku tak tahu apa namanya.

“Mungkin ini akan terasa sedikit sakit, tapi setelah itu rasa nyerimu akan berkurang” ujarnya menenangkan.

“Apa kau akan menyuntikku, Suster?”

Suster itu tersenyum dan mengangguk, “Setelah itu, lukamu akan dibersihkan. Pada beberapa bagian harus dijahit”

“Tidak, Suster. Apa kau lupa bahwa hari ini aku sedang shaum? Aku nggak mau membatalkannya”

“Tapi lukamu perlu di bersihkan, Nona… kalau tidak, lukamu bisa infeksi. Cairan di suntikan ini fungsinya untuk menghilangkan rasa nyerinya” Suster itu mencoba membujukku.

“Tidak, Suster! Lakukan saja apa yang harus dilakukan, aku akan menahan semua rasa nyerinya. Meskipun kakiku harus diamputasi seperti kakakku, aku tak akan mau merusak shaumku” kerasku.

“Kamu yakin? Lukamu begitu parah…”

“Ya!” anggukku mantap.  Kulirik Ahmed yang masih berada disampingku, “Kakakku bilang kalau Palestine itu kuat!”

***

            “Aku suka gayamu bicara ke suster itu. Kau memang gadis Palestina yang kuat!”

            Ahmed yang duduk di kursi roda menatapku penuh arti. Malam ini cukup tenang tanpa ada suara deru senjata yang terdengar atau jet tempur yang lalu lalang. Mungkin pihak Israel sedang menikmati waktu istirahatnya, atau menyusun rencana baru lagi yang lebih kejam? Entahlah…

            Angin semilir yang menerpa wajah dan mengibaskan ujung kerudungku mulai terasa dingin. Aku segera mengayunkan tongkat untuk membantuku berjalan mendekati Ahmed dan  membawanya masuk ke dalam. Lukaku dan Ahmed memang tak mugkin kering secepat itu. Tapi setidaknya, kami sudah boleh pulang kerumah besok pagi. Aku tak sabar bertemu Ibu…

            “Ibu nggak mengunjungi kita, kak?”

            “Tentu saja, Ibu sedang berjuang untuk kita… dia koma dan dirawat di rumah sakit As-Syifa. Besok kamu sekolah, kan?” Aku mengangguk, “Besok kita kunjungi Ibu sepulang kamu sekolah, ya?” kata Ahmed melanjutkan.

            “Oke! Janji, ya…”

            “Insya Allah”

            Senyumku mengembang, meski rasanya berat sekali beban batin yang menghimpit. Ibu, aku hanya tak ingin menangis mendengar keadaanmu sementara kau sedang berjuang…

            “Oh, iya” kata Ahmed tiba-tiba, sesaat setelah suster selesai membantunya naik ke kasur. “Aku akan menjaga Palestine semampuku, meski dengan keadaan seperti ini. Karena bagiku, Palestine itu letaknya disini, dihatiku…” Ahmed menunjuk bagian dadanya yang bidang, “Aku bagian dari Palestine, begitupun sebaliknya…”

Aku tertegun mendengar kalimat barusan. Kupeluk tubuh kakak laki-lakiku itu kuat-kuat dan menangis di pundaknya.

***

            Sepuluh menit nyaris subuh.

            Semua pasien rumah sakit darurat yang berniat shaum hari ini baru saja menyelesaikan santapan sahur. Selepas subuh nanti, aku dan Ahmed harus kembali ke rumah. Hari ini ada ujian tahfidz Qur’an di sekolah dan aku tak akan melewatkannya. Meski harusnya Ibu hadir sebagai penyemangat, tapi tak apalah. Semoga hasil yang kubawa padanya nanti akan lebih menggembirakan.

***

            “Dengarkan aku…” Ahmed menatapkuku seperti tak mengizinkan aku pergi sekolah hari ini. “Aku mendengar kabar bahwa akan ada serangan darat oleh Israel dalam waktu dekat, jadi keluarkan batu-batu dalam tasmu dan bawalah granat ini. Ini dapat membantumu melawan kafir laknatullah itu saat keadaan terdesak”

            Granat yang ada dalam genggaman Ahmed berjenis AN-M14 Incendiary grenade (TH3), atau yang biasa disebut granat pembakar. Efek yang dihasilkan dari granat jenis ini adalah luka bakar yang paling parah dan menyakitkan, karena kandungan thermat dan fosfor didalamnya apabila terbakar akan menghasilkan suatu partikel kimia yang mampu membakar hingga menembus  kulit, saraf, otot, juga tulang. Selain itu, fosfor yang beracun itu dapat menyebabkan kematian.[3] Aku bahkan tak mampu membayangkan apa yang akan terjadi bila granat itu diaktifkan.

            “Darimana kakak temukan itu?”

            “Kamar ayah. Kau tahu cara pakainya, kan?”

            “Ya! Ayah pernah mengajari kita” kataku yakin.

            “Pergilah ujian! Biar Allah yang menjagamu, kau gadis Palestina yang kuat”

            Kumasukkan kedalam tas granat yang Ahmed beri barusan, “Assalamu’alaykum…”

            “Wa’alaykumussalam…”

***

            Meski agak tertatih karena harus berjalan dengan sebuah tongkat yang menggantikan tugas kaki sebelah kananku, tapi niatku untuk ujian tahfidz tak boleh luntur meski jarak antara rumah dan sekolahku cukup memakan waktu yang tak sebentar. Kata Ustadz Yusuf , Murrobiku, hafalan-hafalan Quran inilah yang akan menolongku berjuang membela Palestina.

            “DUARRRR!!!”

            Suara bom itu memekakkan telingaku. Begitu nyaringnya hingga untuk beberapa saat aku tertegun menghadap ke belakang dan melihat kepulan asap hitam yang dihasilkan.

            “Palestine!!! Rumahmu…!!! Suara itu dari arah rumahmu!!”

            Aku tersentak. Barusan tadi teriakan Aisha, teman sekelas yang baru saja berpapasan denganku di gerbang sekolah.

            Pikiranku tak karuan. Aku ingat Ahmed dengan kondisinya sekarang, aku ingat Ibu yang terbaring di rumah sakit dan rencananya akan ku jenguk selepas ujian, aku ingat ujianku yang seharusnya tak kutinggalkan, aku ingat pesan terakhir ayah untuk membela tanah Palestina, aku ingat kata-kata Ahmed sebelum berangkat ke sekolah. Semuanya seperti gambar-gambar yang berputar dalam kepalaku. Membuatku mengambil kesimpulan untuk berbalik arah. Aku pulang.

            Tangisku semakin deras, mengiringi langkah kakiku yang mencoba berlari walau terpincang-pincang. Aku kalut oleh keadaan. Tak habis pikir cobaan yang tak ada habisnya menimpaku. Rasanya hampir putus asa.

            “Aduh!” Tongkatku mengantuk batu yang luput dari penglihatan. Aku terjatuh dan kaki kananku terasa begitu ngilu. Ingin rasanya memohon pertolongan, tapi aku tak akan melakukan itu. Aku gadis palestina yang kuat!

            Dengan tongkat yang ditegakkan, aku mencari cara untuk berdiri. Balutan kain kassa di kaki kananku sudah kotor dan compang-camping kubawa lari. Bahkan, di beberapa bagian lukaku yang lain tertutup pasir. Betapa perih rasanya. Kulirik betisku yang berdarah lagi karena lukanya belum kering. Kuatkan hambamu ini, Ya Allah…

            Aku terus berlari dengan tongkatku sekuat tenaga. Palestine kuat!!! Palestine kuat!!! Batinku bergemuruh. Lantunan ayat Al-Qur’an yang telah kuhafal selama ini seakan terdengar di telinga dan menguatkanku. Aku tak lagi menghiraukan suara deru senjata dari Yahudi Israel yang terus mencari korbannya.

            “Hh…hh…” Aku sampai di sebuah bangunan hitam yang hancur. Aku yakin ini rumahku meskipun sudah tak bisa dikenali bentuknya.

            “Ahmed… kakakku… dimana kau?” Suaraku serak oleh tangisan. Dengan sisa-sisa tenaga aku mencari Ahmed diantara kepingan bangunan yang hancur. Sunyi, tak ada jawaban sama sekali. Aku  putuskan untuk masuk lebih dalam lagi.

            SREET!

            Terdengar suara seperti benda yang bergeser. Disaat bersamaan, aku menemukan bagian kursi roda Ahmed yang telah hancur. “Kakak, kau kah itu?”

            “Ahmed?” Aku celingukan. Tak ada seorangpun disini. Apa aku hanya sedang berkhayal?

            “Hei, Bocah! Sepertinya mayat yang kau cari ada di sbelah sana… hahaha!” Suara berat itu membuat jantungku berdegup cepat. Seorang tentara Israel memergokiku. Senapannya menunjuk arah dimana kakakku berada.

            Aku melihatnya. Dialah kakakku Ahmed yang tubuhnya telah hangus terbakar. Betapa mengerikannya, tapi aku bersyukur karena Allah telah menerima satu lagi mujahid dari keluargaku.

            “Hahaha… menangislah sampai puas! Sebentar lagi kau pun akan menyusul mereka!”

            “Biadab kau!!” pekikku ditegah tangis yang hanya disambut dengan senyum sinis darinya. Aku mencoba bangkit dan mendekat ke mayat Ahmed, tapi tongkatku justru didorong tentara itu, membuatku terjatuh dan tak mampu kemana-mana.

            Kakakku Ahmed, sungguh aku tak melihatmu sebagai mayat hangus yang tak berdaya. Sebaliknya, kau justru kini kulihat sedang tersenyum menatapku dengan wajah yang amat tampan berseri. Lihat, gadis Palestina yang kuat ini akan balaskan dendammu. Aku tak akan mati di tanganya, kak. Tidak semudah itu! Aku hanya akan mati apabila tentara ini ikut mati juga bersamaku.

            Tiba-tiba aku teringat sesuatu yang sempat diberikan Ahmed. Sebuah benda yang berada dalam tas selempang yang masih ku kenakan. Aku mengupulkan keberanian untuk mengambil granat dan menarik pinnya. Tiba-tiba bayangan Ali dan Paman Amir mucul di samping bayangan Ahmed, mereka ikut tersenyum melihatku. Aku tak pernah sebahagia ini sebelumnya. O Allah, izinkan syahidku…

            Tentara zionis itu mengarahkan senapannya ke bagian kepalaku, “Jadi, katakan siapa namamu agar aku bisa mengenangnya!”

            Ibu, berjuanglah! Semoga hasil akhirku ini menggembirakanmu… Maafkan anakmu karena tak akan sempat lagi mengunjungimu di bumi Palestina…

            “Namaku Palestine!”

 ***




[1] Sumber : ISLAMPOS, Yahudi Kembali Kibarkan Bendera Israel di Al-Aqsha
[2] Kutipan kalimat dari Khalifah Abdul Hamid II (1902)
[3] Sumber : Wikipedia, Jenis-jenis granat