Cerbung oleh Fatmashely
Sebelumnya: Differrent Ways To Say "I Love You, Mom" (1)
Dokter itu Bohong!
Saat Ibu konsultasi bulan lalu, semua baik saja. Dokter nggak bilang kalau kandungan Ibu bermasalah, kata dia aku sehat. Bahkan. bulan lalu pula dokter bilang kalau aku boleh lahir tepat waktu 9 bulan 10 hari, dimana jatuhnya sama persis dengan hari lahir Ayah, 20 November. Tapi kenapa yang disampaikan kemarin sore berbeda?
Aku geram, sementara Ibu makin jadi banyak pikiran. Sedikit banyak, apa yang dirasakan Ibu semalaman ini berpengaruh kepada aku. Kumohon, Ibu jangan sedih. Percayalah aku baik-baik saja disini!
Merasakan kegelisahan Ibu adalah kontak batin terbaik antara hubungan Ibu dan anak yang aku miliki dari dalam sini. Sementara aku hanya bisa terus menggeliat di dalam rahim ibu. Mana bisa tenang aku?
Sudah cukup rasanya aku menyakiti ibu disetiap detiknya. Membuat Ibu harus rela menambah berat ditubuhnya yang semakin hari semakin menjadi, Dua puluh tiga kilo bertambahnya. Membayangkan mengangkat beban seberat itu selama 10 menit saja aku belum mampu, Ini berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan lamanya.
Belum lagi, selalu membangunkan Ibu tiap malam dan membuatnya selalu sulit tidur. Aku yakin, dengan perut sebesar itu, Ibu nggak akan nyaman dengan posisi tidur bagaimanapun.
Ibu pasti lelah, ya? Ibu jadi kurang jam tidur, ya? Tapi kenapa Ibu nggak pernah mengeluh?
Padahal, setiap sebulan sekali Ibu harus pergi kontrol ke Dokter untuk memeriksa aku. Disuntik berkali-kali dan disodorkan berbagai macam obat dan vitamin demi kesehatan aku. Mendapat beberapa pantangan makanan, keharusan mengonsumsi susu tawar yang aku tahu kalau ibu sebetunya nggak suka. Ditambah lagi keharusan Ibu olahraga berjalan kaki setiap pagi supaya--katanya--proses persalinannya mudah. Sementara di lain sisi, Ibu masih punya kewajiban untuk tetap berbakti pada Ayah.
Oh Ibu, belum lahir saja aku sudah kurang ajar...
***
Segelas susu tawar segar lagi pagi ini.
Aku suka. Tapi Ibu nggak.
Sebetulnya aku belum tahu apa alasan Ibu nggak suka susu. Tapi kebiasaan Ibu mual-mual setiap pagi setelah minum susu lah yang membuatku berpikir kalau ibu nggak suka susu. Seperti pagi ini, ada mual yang sengaja ditahan. Demi aku agar mendapat asupan kalsium dari susu itu.
Aku suka. Tapi Ibu nggak.
Sebetulnya aku belum tahu apa alasan Ibu nggak suka susu. Tapi kebiasaan Ibu mual-mual setiap pagi setelah minum susu lah yang membuatku berpikir kalau ibu nggak suka susu. Seperti pagi ini, ada mual yang sengaja ditahan. Demi aku agar mendapat asupan kalsium dari susu itu.
Bu, apa baiknya aku keluar saja?
Ibu hanya mengelus-elus aku dari luar, buat aku merasa nyaman. Aku selalu suka setiap ibu perlakukan aku seperti ini. Sangat rileks. Nggak lama lagi, ibu pasti ngajak aku berkomunikasi. Aku hapal, kan? hihihi.
"Nak, Ibu cuma ingin kamu sehat. Melahirkan kamu di waktu yang tepat dengan persalinan normal, itu sebetulnya impian Ibu.." Ibu masih terus mengelus perut, sementara aku hanya sibuk mendengarkan dari dalam, "..Tapi, kemarin kata Dokter kamu harus lahir Premature, kalau tidak, salah satu dari kita harus mengalah," Aku terkesiap. Sudahi percakapan ini, Bu! Aku nggak mau dengar..
"Kalau itu sampai terjadi, berarti kamu yang harus selamat, ya. Ibu mencintai kamu, Nak," ujar Ibu.
Aku berontak tiba-tiba. Marah.
***
"Eeenggh.." Ibu melenguh bangun dari tidurnya. Aku ikut bangun.
"Jangan bergerak dulu, kamu baru habis pingsan tadi, Untung nggak terjadi apa-apa," kata suara diluar, aku tahu itu suara Ayah, suara kedua yang aku hapal setelah Ibu.
Aku harus pasang kuping supaya tau apa yang sedang terjadi di luar.
"Kita di rumah sakit, Dik. Tadi Dokter bilang tensi darahmu makin tinggi. Mau nggak mau persalinan harus dilakukan. Meski seberapapun keras kepalanya kamu mau pertahankan anak kita sampai 9 bulan, aku tetap nggak mau kehilangan kalian. Tadi kamu kontraksi hebat. Ah iya, minumlah dulu,"
Ibu diam, tak ada jawaban dan menuruti Ayah untuk minum air. Sementara aku makin merasa bersalah. Untung saja aku punya Ayah yang sigap, langsung membawa Ibu ke Rumah Sakit. Kalau tidak?
Aku benar-benar sudah kelewat batas!
Aku benar-benar sudah kelewat batas!
"Nanti Dokter akan kasih obat perangsang supaya kamu bisa kontraksi lebih cepat dan bayi bisa dikeluarkan layaknya orang normal. Aku lupa namanya apa, tadi sih Dokter sempat menyebutkan istilahnya, Tapi, katanya ini akan dua kali lebih sakit daripada lahiran dengan kontraksi normal. Demi kamu dan anak kita, kamu bersedia, Dik?" tanya Ayah.
***
(Bersambung)
Ditulis di Bekasi, 29 Oktober 2015