Kamis, 29 Oktober 2015

Different Ways To Say "I Love You, Mom" (2)

0

Cerbung oleh Fatmashely

Dokter itu Bohong!
       Saat Ibu konsultasi bulan lalu, semua baik saja. Dokter nggak bilang kalau kandungan Ibu bermasalah, kata dia aku sehat. Bahkan. bulan lalu pula dokter bilang kalau aku boleh lahir tepat waktu 9 bulan 10 hari, dimana jatuhnya sama persis dengan hari lahir Ayah, 20 November. Tapi kenapa yang disampaikan kemarin sore berbeda?
        Aku geram, sementara Ibu makin jadi banyak pikiran. Sedikit banyak, apa yang dirasakan Ibu semalaman ini berpengaruh kepada aku. Kumohon, Ibu jangan sedih. Percayalah aku baik-baik saja disini!
        Merasakan kegelisahan Ibu adalah kontak batin terbaik antara hubungan Ibu dan anak yang aku miliki dari dalam sini. Sementara aku hanya bisa terus menggeliat di dalam rahim ibu. Mana bisa tenang aku? 
        Sudah cukup rasanya aku menyakiti ibu disetiap detiknya. Membuat Ibu harus rela menambah berat ditubuhnya yang semakin hari semakin menjadi, Dua puluh tiga kilo bertambahnya. Membayangkan mengangkat beban seberat itu selama 10 menit saja aku belum mampu, Ini berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan lamanya.
       Belum lagi, selalu membangunkan Ibu tiap malam dan membuatnya selalu sulit tidur. Aku yakin, dengan perut sebesar itu, Ibu nggak akan nyaman dengan posisi tidur bagaimanapun.
       Ibu pasti lelah, ya? Ibu jadi kurang jam tidur, ya? Tapi kenapa Ibu nggak pernah mengeluh?
       Padahal, setiap sebulan sekali Ibu harus pergi kontrol ke Dokter untuk memeriksa aku. Disuntik berkali-kali dan disodorkan berbagai macam obat dan vitamin demi kesehatan aku. Mendapat beberapa pantangan makanan, keharusan mengonsumsi susu tawar yang aku tahu kalau ibu sebetunya nggak suka. Ditambah lagi keharusan Ibu olahraga berjalan kaki setiap pagi supaya--katanya--proses persalinannya mudah. Sementara di lain sisi, Ibu masih punya kewajiban untuk tetap berbakti pada Ayah.
       Oh Ibu, belum lahir saja aku sudah kurang ajar...
***
       Segelas susu tawar segar lagi pagi ini.
       Aku suka. Tapi Ibu nggak.
       Sebetulnya aku belum tahu apa alasan Ibu nggak suka susu. Tapi kebiasaan Ibu mual-mual setiap pagi setelah minum susu lah yang membuatku berpikir kalau ibu nggak suka susu. Seperti pagi ini, ada mual yang sengaja ditahan. Demi aku agar mendapat asupan kalsium dari susu itu.
      Bu, apa baiknya aku keluar saja? 
      Ibu hanya mengelus-elus aku dari luar, buat aku merasa nyaman. Aku selalu suka setiap ibu perlakukan aku seperti ini. Sangat rileks. Nggak lama lagi, ibu pasti ngajak aku berkomunikasi. Aku hapal, kan? hihihi.
       "Nak, Ibu cuma ingin kamu sehat. Melahirkan kamu di waktu yang tepat dengan persalinan normal, itu sebetulnya impian Ibu.." Ibu masih terus mengelus perut, sementara aku hanya sibuk mendengarkan dari dalam, "..Tapi, kemarin kata Dokter kamu harus lahir Premature, kalau tidak, salah satu dari kita harus mengalah," Aku terkesiap. Sudahi percakapan ini, Bu! Aku nggak mau dengar.. 
       "Kalau itu sampai terjadi, berarti kamu yang harus selamat, ya. Ibu mencintai kamu, Nak," ujar Ibu.
       Aku berontak tiba-tiba. Marah.
***
       "Eeenggh.." Ibu melenguh bangun dari tidurnya. Aku ikut bangun. 
       "Jangan bergerak dulu, kamu baru habis pingsan tadi, Untung nggak terjadi apa-apa," kata suara diluar, aku tahu itu suara Ayah, suara kedua yang aku hapal setelah Ibu.
       Aku harus pasang kuping supaya tau apa yang sedang terjadi di luar.
       "Kita di rumah sakit, Dik. Tadi Dokter bilang tensi darahmu makin tinggi. Mau nggak mau persalinan harus dilakukan. Meski seberapapun keras kepalanya kamu mau pertahankan anak kita sampai 9 bulan, aku tetap nggak mau kehilangan kalian. Tadi kamu kontraksi hebat. Ah iya, minumlah dulu,"
       Ibu diam, tak ada jawaban dan menuruti Ayah untuk minum air. Sementara aku makin merasa bersalah. Untung saja aku punya Ayah yang sigap, langsung membawa Ibu ke Rumah Sakit. Kalau tidak?
       Aku benar-benar sudah kelewat batas!
       "Nanti Dokter akan kasih obat perangsang supaya kamu bisa kontraksi lebih cepat dan bayi bisa dikeluarkan layaknya orang normal. Aku lupa namanya apa, tadi sih Dokter sempat menyebutkan istilahnya, Tapi, katanya ini akan dua kali lebih sakit daripada lahiran dengan kontraksi normal. Demi kamu dan anak kita, kamu bersedia, Dik?" tanya Ayah.
***

(Bersambung)

Ditulis di Bekasi, 29 Oktober 2015

Rabu, 28 Oktober 2015

Different Ways To Say "I Love You, Mom" (1)

0

Cerbung, oleh Fatmashely

Hari ini, tiga hari sebelum kelahiranku..
        Bisakah kau bayangkan? Betapa aku begitu gugupnya membayangkan bahwa akan kutemui dunia yang begitu penuh dengan kepura-puraan, penuh dengan kesombongan dan kehausan atas kekuasaan. Ya, aku mendengar pembicaraan-pembicaraan itu dari balik tebalnya dinding rahim ibuku yang kokoh dan terus membesar ini. Meski sempit, inilah tempat teraman dan ternyaman bagiku. Sungguh.
       "Aww.." Ibuku mengeluh saat aku menggeliat dan tidak sengaja menendang rahim bagian atas ibu. Sekarang posisiku sudah terbalik, kepalaku dibawah.
       Ya Tuhan, apakah aku penyebab sakitnya ibu? Kalau benar iya, maka maafkan aku, Bu..
       "Kenapa?" kudengar ada suara wanita lain yang menanyakan keadaan ibu.
       "Bayiku lagi ngulet," ucap Ibu dengan nada senang. Ah, apa benar ibu senang? Baru saja aku menyakitinya. Habis bagaimana lagi? disini benar-benar gelap dan mulai terasa sempit. Kadang aku juga merasa bosan dan pegal kalau hanya bertahan dengan satu posisi. Aku ingin selalu bergerak untuk menyamankan posisiku sekaligus supaya Ibu nggak khawatir seperti waktu itu.
       Khawatir?
       Ya, aku pernah sekali waktu diam saja karena nggak tega mendengar rintihan Ibu yang kesakitan, atau yang selalu terbangun tengah malam hannya karena aku terus bergerilya di dalam rahimnya. Tapi ibu bukannya senang malah khawatir. Aku ingat betul, malam itu Ibu nggak bisa tidur dan malah membangunkan Ayah. Deru nafas dan detak jantung ibu yang terdengar jelas seperti sedang panik dan gelisah. Aku jadi ikut-ikut nggak bisa tidur.
       "Kamu kenapa, Dik?" Kata Ayah setelah dibangunkan ibu. Ayah selalu memanggil ibu dengan sebutan Dik. Mungkin maksudnya Adik.
       "Nggak bisa tidur, Mas. Anakmu ini kok nggak gerak-gerak ya sedari tadi? Khawatir," kata Ibu sambil mengelus-elus perutnya. Aku merasakan elusan tangan Ibu dari balik rahim. Lembut.
       "Jangan panik. Inshaa Allah nggak akan ada apa-apa, Sudah tidur. Seorang ibu juga kan perlu istirahat," Ayah menenangkan.
       Aku bingung harus melakukan apa saat itu. Aku ingin bergerak, tapi ibu pasti kesakitan lagi. Aku nggak mau ibu sakit.
       Tapi kalau aku diam saja...
      "Mas! Anakmu bergerak! Anakmu bergerak!," Ibu kegirangan.
      Ini sungguh buat aku heran. Kenapa Ibu senang bila aku menyakitinya?
***
       Sore ini, jadwal kontrol Ibu ke Dokter di usia kandungannya yang ke 8 bulan 17 hari.
       Aku merasa dingin saat stetoskop Dokter itu menyentuh perut ibuku. Sedikit kesal juga saat dokter menekan-nekan perut ibu dan membuatku merasa nggak nyaman, meski tekanannya nggak kasar. Saat itu belum ada USG yang bisa mendeteksi aku. Ibu saja belum tahu apa jenis kelaminku, hihihi.
       Lucunya lagi, aku 'diramal' dokter itu kalau aku kembar...
       "Bu, Tensi darah Ibu tinggi sekali. Bisa bahaya untuk janin. Sebaiknya harus segera dikeluarkan, kalau tidak..." perkataan Dokter ini buatku gugup, "Kalau menunggu sampai 9 bulan 10 hari, maka kemungkinan besar salah satu--antara Ibu atau anak di kandungan Ibu--nggak akan selamat," ucap Dokter itu tanpa penyesalan. Aku geram mendengarnya. Ucapan itu telah membuat Ibu sedih.
***

(Bersambung)


Ditulis di Bekasi, 28 Oktober 2015