Cerpen By Fatmashely
“Bismillah..”
Ketika jemariku mengetik barisan
klimat ini, rasa-rasanya waktu berjalan begitu lambat. Mengizinkan otakku untuk
memutar arah ke belakang. Merasakan betapa sungguh karunia Allah yang tak
terhingga telah kujumpai. Mungkin, yaa mungkin disinilah titik untukku
memaknai. Hmm.. kuakui sebelumnya tidak.
Aku Ashna, yang saat ini hanya bisa
menatap layar monitor laptopku sementara pikiranku terus melayang. Hari ini,
aku dihadapkan pada dua pilihan : Berhenti kuliah, atau aku akan terus mencekik
ayahku dengan segala tunggakannya.
Kalau kau belum tahu alasannya,
baiklah, aku akan ceritakan. Kalau kau mau menghakimiku, ‘kamu bisa kerja, kan?’
silakan. Tapi aku tak mau melakukannya. Idealism? Ya, mungkin sedikit. Selebihnya,
aku berusaha realistis memandang hidup.
Sebelas bulan sebelum hari ini, aku
masih berada diatas angin. Nggak perlu bigung hari ini gimana, besok makan apa.
Semua tercukupi. Ayahku masih normal bekerja dengan gaji yang lebih dari cukup.
Keadaan yang melenakkan sampai membuatku lupa bersyukur. Setiap bulan, kami
pasti pergi ke supermarket untuk persiapan kebutuhan dapur, motorku masih rutin
dicuci steam, bahkan aku lebih sering cuci pakaian di laundry. Mana kutahu
kalau itu bulan terakhir aku bisa melakukannya?
“Ayah
nggak berangkat kerja?” kataku.
Ayah hanya memandangku sambil
tersenyum kecut. Tak ada gairah sedikitpun. “Ayah mau antar kamu ke kampus,
sekali-sekali”
“Loh? Aku kan bawa motorku sendiri.
Nggak perlu diantar lah, lagipula aku masuk agak siang kok”
“Udahlah, yah..” Ibu berkata pada
ayah tapi tatapan matanya kearahku.
Segalanya berubah sejak hari itu. Dari
Ibu aku tahu, ayah sudah berhenti bekerja karena PHK.
Kaget? Putus asa? Tentu!. Aku bingung
harus bagaimana. Apalagi, di bulan-bulan berikutnya ayah benar-benar mogok,
sudah nggak mau bekerja lagi. Padahal uang tabungan kami semakin lama menipis. Rasanya
tak karuan.
Ternyata efeknya nggak hanya terasa
saat dirumah. Karena pikiran, nilai di kampus merosot. Gairah belajar sih tetap
ada, tapi pikiran serabutan cari akal. Mungkin sudah miri orang gila, hahaha.
Sedikit kisah lucu setengah miris malah
terjadi. Yoga, teman cowokku satu fakultas mendadak bilang cinta. Walah-walah. Dalam
keadaan begini, hati ini rasanya lagi mati rasa sama hal-hal yang berbau cinta.
“Aku salah bilang sayang?” kata
Yoga di hadapanku, sore itu.
“Nggak sama sekali” sahutku tanpa
menatpnya.
“Tapi kenapa?” ungkapnya
menggantung.
“Sikonnya nggak tepat, Yog. Maaf
yaa..”
***
Tiga
bulan setelahnya, di pertengahan semester aku putuskan untuk dagang di kampus.
Pagi-pagi sekali, kujemput kue-kue di pasar untuk dibawa. Setiap hari begitu. Kalau
bukan untuk uang makan siangku, mungkin aku enggan melakukannya. Yap, benar
dugaanmu, uang jajanku di stop. Ayah hanya member uang kuliah, bukan uang
jajan.
“Ashna!”
Panggil seseorang diujung lorong fakultas, aku menoleh sambil tersenyum. Dua plastic
besar di tanganku masih mnggelayut.
“Masih
ada kuenya?” kata dia.
Senyumku
makin mengembang. Kupamerkan dua kantong besar itu, “Masih banyak, nih!”
Begitulah
aku, setiap hari sampai akhir semester ini.
***
“Ayah…
gimana kuliahku?” kataku sembari mengambil kerupuk udang untuk lauk makan. Ayah
hanya diam tak bergeming.
“Sekai
ini aja, aku minta tolong, Yah… Aku gagal kumpulin uang dari dagangan…”
“Tabungan
ayah sudah habis, Ashna…”
Aku
sangat ingat hari itu. Aku merasa tuhan tak adil. Kenapa harus aku? Sambil
menahn isak tangis aku berlari ke kamar. “AAAARRRRRGGGHHH…!!!!” Rasanya ingin
teriak. Detik itu, sepertinya aku tak punya rongga dada. Semua penuh sesak.
Aku
ingat dulu, saat semua masih indah. Aku ingat dulu, saat ayah dengan mudahnya
memberiku uang. Aku ingat dulu, saat bisa memilih sekolah terbaik. Semua seperti
baru sekejap lalu kualami, tapi sekarang hilang entah dimana. Oh Ashna… apa
dunia ini akan berakhir?
Aku
hanya menangis.
Menangis.
Dan
menangis hampir setiap malam.
Meratapi
nasib…
Kalau
boleh jujur, semua tangisan ini sebenarnya hanya menguras energiku saja. Menyisakan
wajah lengket bekas air mata. Mata yang sembab dan pipi mengembung ini justru menyiksaku
kemudian. Belum lagi hidungku yang tersumbat, membuatku harus rela bernafas
dari mulut saat tidur.
***
“Ada
kalanya kamu jatuh, Ashna…” kataku pada cermin sambil berusaha tersenyum, “Saatnya
bangkit, bukan menyesali..”
Aku
merapikan ujung rambutku dengan sisir yang tergeletak di dekat cermin. Entah dapat
semangat darimana, hingga pagi tadi aku bisa melakukannya.
“SEMANGAT
ASHNAAAAAA…!!! LIFE MUST GO ON, YEAAAAAH!!!!!”
“If I
can dream it, I’ll get it…!”
Seperti
orang gila. Aku memotivasi diriku sendiri.
“Ashna!
Kamu kenapa sih?!” Ibuku masuk kamar dengan sewot. Aku hanya tersenyum
memamerkan gigi.
“Bu,
Ashna mau cuti..!” kataku.
“Harusnya
kamu nggak perlu lakuin itu. Kamu mau kerja? Kan bisa kuliah sambil kerja…”
“Nggak bu,
aku mau buka usaha, buka toko. Dalam satu tahun cuti, aku mau kembangin
seluas-luasnya… Ashna sedikit lagi sukses, Bu! Asal ibu berdoa terus yaa..
jangan berhenti. Bu, Ashna bukan cuma menghayal. Kali ini serius!” Aku melihat
ibu memandangku lembut sekali sambil menggumam, Aamiin…
“Modalnya?”
Akhirnya ibu angkat bicara.
“Dari
Allah lah, ntar juga ada jalannya, Insyaa Allah”
“Kenapa
nggak kerja?”
“Motor
kita tinggal satu sejak ayah nggak kerja, Bu. Ada banyak lowongan kalau aku mau kerja jauh. Tapi itu perlu
modal transport. Kalau mau yang dekat, hmm… lihat nanti lah bu. Allah pasti
beri jalan. Tapi misalkan aku kerja, maka itu buat nambah modal, bukan
penghasilan utama. Usahaku mau kujadikan investasi, Bu.. buat keluarga kita”
“Buat
masa tua ayah dan ibu…” ujarku dengan idealisme yang tinggi. “Do’akan aku yang
terbaik, Bu.. saat ini modalku hanya do’amu…”
“Aamiin…”
kata ibu.
Aku
kembali menatap cermin. Melihat betapa beraninya aku membuat keputusan
sekarang. Ashna yang sekarang jauh lebih kuat…
***
Bekasi, 13 Februari 2015
“Sekarang
aku mengerti, kenapa Allah berikan begitu banyak pilihan dan cobaan dalam
hidup. Tidak lain karena hidup ini terlalu indah, tapi tidak berwarna tanpa
pilihan dan cobaan. Kalau kamu pernah mendapatkan keduanya, bersyukurlah. Berarti tidak lama lagi hidupmu akan semakin indah dan berwarna…"
-ASHNA-